Anak-anak itu mirip semen basah, apapun yang jatuh di atasnya akan meninggalkan bekas, yang kalau tidak segera dihaluskan kembali, bekas tersebut akan mengeras selamanya. (Haim Ginott)

Rabu, 24 Juli 2013

Menjalin Komunikasi yang Baik dengan Anak

Komunikasi yang baik akan meningkatkan kualitas cinta dan kasih sayang orangtua terhadap anak dan begitupun sebaliknya. Berkomunikasi dengan anak sangat diperlukan bagi setiap orangtua, karena komunikasi yang baik akan menjalin hubungan yang baik pula antara anak dengan orangtua. Anak itu ibarat kertas putih, apa yang diajarkan itulah yang ia pelajari, apa yang dengarnya itulah yang akan dia ucapkan, apa yang dia rasakan itu pulalah yang akan mereka katakana, apa yang mereka lihat itulah yang akan mereka lakukan. Jadi komunikasi yang baik dengan anak perlu diterapkan disetiap keluarga kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Karena dengan berkomunikasi yang baik akan membantu perkembangan anak menjadi lebih baik.

Sumber gambar : Thema Powerpoint
Berkomunikasi yang baik dengan anak selain akan mendapatkan hubungan yang baik, juga menjadikan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi anak akan lebih baik dengan masyarakat atau teman-temannya, karena secara tidak langsung orangtua telah memberikan pembelajaran yang sangat berharga pada anak.

Saya yakin dan kita semua sudah tahu bahwa komunikasi yang efektif sangat penting dalam sebuah keluarga.  Komunikasi yang dijalin secara positif antara orangtua dengan anak dan dengan seluruh angota keluarga, akan membuka keran kemesraan, kehangatan, kenyamanan, saling percaya dan tentu akan semakin meningkatkan kualitas hubungan antar seluruh anggota keluarga. Kaulitas hidup akan menjadi semakin baik.

Tetapi permasalahannya adalah tidak semua orangtua memahami bagaimana komunikasi yang positif itu, sehingga yang banyak terjadi adalah komunikasi yang monoton dan cenderung searah, yaitu top-down. Orangtualah yang lebih banyak mengambil peranan, sehingga cenderung mengabaikan dan mengesampingkan anak. Padahal komunikasi yang baik dan positif adalah komunikasi yang multi arah. Adanya hubungan timbal balik yang baik dan saling mengisi, bukan mendikte.
Seorang anak yang merasa terus-menerus di salahkan, terus-menerus di kritik, didikte, ditekan harus melakukan ini dan itu, maka ia akan  tumbuh menjadi orang dewasa dengan konsep diri yang negatif, karena dalam perkembangannya, pengalamannya hidupnya ia banyak mendapatkan tekanan, paksaan, disalahkan dan sebagainya. Apakah sebagai orangtua kita akan membangun konsep diri dan kepribadian anak seperti itu ? tentu tidak bukan ? Biasanya anak dengan kondisi demikian adalah produk dari pola asuh yang otoriter. Pola asuh seperti ini cenderung menuntut anak. Bila tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan, maka orangtua akan langsung marah-marah. Akibatnya anak selalu takut berbuat salah. Padahal kita tahu bahwa anak-anak seringkali berbuat kesalahan, dan itu adalah hal yang wajar dilakukan anak yang dalam proses pembelajarannya. Bukankah kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar ? Anak mengambil jalan aman dengan berbohong ketimbang kena marah.

Karena saya seorang guru, maka saya akan mencoba menceritakan suatu peristiwa yang memang bukan sekali saja terjadi di sekolah. Peristiwa yang akan saya ceritakan ini biasanya terjadi ketika pembagian raport. Sudah menjadi kebiasaan bahwa yang mengambil raport murid-murid di sekolah adalah orangtuanya, bisa ayahnya atau ibunya, tetapi banyak juga yang kedua-duanya datang untuk mengetahui dan berkonsultasi dengan saya mengenai perkembangan anaknya di sekolah.
Ada seorang ibu yang ngotot dan marah ketika mengetahui nilai yang tertera pada raport anaknya itu adalah nilai yang pas-pasan. Si ibu ini begitu yakin bahwa saya melakukan kesalahan yang fatal dalam menuliskan nilai pada raport anaknya. Sang ibu mengutarakan argumentasinya bahwa selama ini nilai anaknya selalu bagus, dan itu terbukti dari ulangan-ulangan yang diberikan oleh anaknya kepada sang ibu. Saya tidak membalas dengan marah lagi, saya hanya tersenyum saja, karena saya yakin bahwa si ibu telah dibohongi oleh anaknya. Untuk meyakinkannya sayapun menyodorkan daftar nilai ulangan harian, tugas-tugas, maupun PR kepada sang ibu ini. Beliau tidak yakin dengan penglihatannya. Kemudian sayapun menjelaskan kondisinya, bahwa anaknya memang seringkali mendapat nilai yang pas-pasan kalau ulangan. Dan mungkin karena merasa takut terhadap ibunya, maka si anak lebih memilih membuang dan tidak memberikan hasil  ulangan yang nilainya pas-pasan itu ketimbang nanti dimarahinya. Hanya hasil ulangan yang nilainya baguslah yang diberikan kepada ibunya, karena dengan demikian ia tidak akan dimarahi dan tentu akan mendapat pujian.

Kejadian nyata yang saya ceritakan itu adalah salah satu produk dari pola komunikasi yang selama ini dilakukan oleh sebagian orangtua terhadap anaknya, yaitu komunikasi yang otoriter. Komunikasi yang ototriter juga cenderung satu arah, di mana dalam tipe komunikasi satu arah ini hanya ada satu figur sentral yang mendominsai, bisa ayah atau ibu. Dan figur sentral ini mempunyai kewenangan, kekuasaan untuk menentukan kapan anak boleh bicara atau tidak. Pola seperti ini jika diteruskan terjadi, maka akan membuat  anak menjadi seorang yang tertutup pada orangtuanya.
Ada juga yang di rumahnya jarang terjadi komunikasi. Walaupun tidak ada masalah antara orangtua dengan anaknya. Misal, orangtua pulang kantor karena capek ia langsung masuk kamar. Anak pun demikian, pulang sekolah langsung mengunci diri di kamar. Akibatnya orangtua tidak tahu keadaan dan kebutuhan anak, begitupun anak tidak dapat berinteraksi dengan baik terhadap orangtuanya. Walaupun ada komunikasi, hanya sebatas basa-basi saja. Contohnya, ibu bertanya kepada anaknya, " Bagaimana tadi di sekolah?" anak hanya menjawab, "Ah, enggak apa-apa. Biasa-biasa saja !" Jadi di saat orangtua atau anak ingin menggali cerita lebih dalam, komunikasi tidak dapat terwujud karena tidak ada saling keterbukaan, komunikasi yang terjalin sudah terlanjur kaku, canggung dan hambar. Biasanya komunikasi seperti ini penyebabnya adalah karena antara orangtua ataupun anak sama-sama sudah merasa capek dengan aktivitas dan rutinitas sehari-hari.
 Seyogyanya antara orangtua dan anak terjadi suatu komunikasi yang hidup dan positif. Komunikasi yang positif adalah tipe komunikasi yang paling sehat. Antara anak dan orangtua terjalin komunikasi saling terbuka. Orangtua mau mendengarkan anak dan anak secara leluasa dapat bercerita, mengeskpresikan perasaan, curahan hatinya, kesedihan, kegembiraan, pengalamannya,  dan pikiran-pikirannya serta berdiskusi dengan orangtua. Tipe komunikasi ini cenderung lebih demokratis dan hangat.

Bagaimana menciptakan komunikasi yang positif ? Berikut bisa dijadikan referensi bagi para orangtua dalam membangun komunikasi yang positif :
  • Jangan membawa masalah pekerjaan di depan anak. seberat apapun masalah atau problem yang dihadapi di kantor, jangan sampai anak melihat kekesalan, kekecewaan, apalagi umpatan-umpatan dan sumpah serapah kita, jangan sampai kekesalah tertumpah kepada anak. Apapun keburukan anak, bisa jadi merupakan buah dari perkataan orangtuanya.
  • Jika orangtua, antara ayah dan ibu ada masalah, maka jangan sampai diributkan di depan anak. Ketika berkumpul antara ayah, ibu dan anak, maka sebagai orangtua yang baik, pendamlah dulu emosi dalam-dalam. Akan sangat tidak baik apabila orangtua berantem dan ribut di depan anak-anak. selesaikan masalah di tempat lain yang tidak diketahui atau di dengar oleh anak.
  • Saat berkomunikasi atau berbicara dengan anak, gunakanlah bahasa yang sederhana, mudah dimengerti dan usahakan menggunakan kata yang kongkrit terlebih kepada anak di bawah tujuh tahun.
  • Hendaknya orangtua  jangan membumbui perkataannya dengan menakut-nakuti anak. Misal   “ Dek, kamu jangan manjat-manjat pohon, nanti kamu jatuh lho. Kalau kamu jatuh terus kaki kamu patah bagaimana ? Kamu nanti dibawa ke dokter terus kakinya dioperasi !” sebaiknya orangtua mengatakan dengan kalimat yang positif dan menghindari kata-kata negatif. Katakan saja kepada anak “ Dek, mainnya di bawah saja ya, lebih aman !”
  • Supaya anak memamahi apa yang dibicarakan oleh orangtua, maka perhatikan nada bicara, tempo dan mimik muka. Jangan samapi berkomunikasi dengan perkataan yang cepat tetapi tidak jelas maknanya.
  • Tumbuhkanlah sikap saling terbuka, saling menghargai, saling memahami dan kehangatan, sehingga komunikasi akan berjalan dengan lebih cair dan efektif.
  • Walaupun posisi kita sebagai orangtua, tetapi hendaknya saat berkomunikasi dengan anak, kita usahakan untuk lebih banyak menjadi pendengar yang baik. Dengan lebih banyak mendengarkan anak, orangtua jadi dapat mengetahui kebutuhannya, apa yang diinginkan, dirasakan, diharapkan, pemikiran-pemikirannya, pendapatnya atau kritikan-kritikannya kepada kita dan sebagainya. Tetapi, bukan berarti karena menjadi pendengar yang baik lantas orangtua menjadi pasif. Yang benar adalah bersikaplah proaktif. Perhatikan hal-hal sekecil apapun yang timbul dari anak, dan orangtua harus pandai-pandai memancing agar anaknya mau berbicara. Misal saat anak pulang sekolah terlihat sangat kelelahan, cobalah untuk bertanya “ Kenapa sayang, kelihatannya lemes banget ?” Nah bentuk perhatian seperti ini akan mendorong anak untuk mau bercerita mengenai keadaannya kepada orangtua.
“Ketika kita belajar mendengar, kita tidak saja sedang membuat orang lain bahagia,
kita juga sedang membuka lapisan-lapisan diri ini yang lebih mulia.”
(Gede Prama) 
  • Saat berkomunikasi, uasahakan untuk tersenyum dengan tulus. Karena 50 % komunikasi dilakukan dengan bahasa tubuh termasuk mimik muka atau ekspresi wajah. Bahasa tubuh ini akan menambah pemahaman anak daripada kalimat-kalimat atau bahasa-bahasa yang intelektual.
  • Tunjukkan sikap antusian di depan anak-anak, karena dengan demikian, anak akan merasa diperhatikan oleh orangtuanya.
  • Gunakanlah kacamata anak-anak, artinya anak-anak melihat berbagai hal dengan cara pandang yang berbeda, anak-anak akan melihat dan menilai sesuatu menurut pemahamannya, dengan persepsinya. Mereka melihatnya dengan kacamata mereka, bukan kacamata orangtua. Karena bentuk perhatian, prioritas dan sistem nilai mereka memang berbeda dengan orang dewasa. Untuk itu gunakan standar mereka, agar komunikasi lebih cair. Kitalah yang harus memasuki dunia mereka, bukan memaksa mereka untuk masuk ke dunia kita.
  • Libatkanlah anak-anak. Jika ada bagian dari komunikasi atau bicara antara orangtua dengan anak yang membutuhkan atau memungkinkan mereka bisa tampil, meminta pendapatnya, maka berikan kesempatan itu pada mereka. Terkadang ide-ide, gagasan, pendapat anak itu lebih segar, brilliant, orisinil, dan tentunya akan ada kejutan-kejutan yang di luar perkiraan kita. Karena biasanya anak-anak lebih banyak menggunakan otak kanannya, daripada orangtua yang cenderung lebih banyak menggunakan otak kirinya.
  • Berikan penguatan-penguatan dan motivasi, tentu penguatan dan motivasi ini harus wajar dan logis. Jangan sampai orangtua memuji secara berlebihan atas pebuatan kecil yang dilakukan anak, karena anak akan menganggap itu sebagai sindiran.
  • Jujurlah kepada anak, dalam menjelaskan atau mengomunikasikan sesuatu dengan anak-anak, hendaknya orangtua berlaku jujur, dalam arti tidak membodohi dan membohongi anak. Jelaskan dengan jujur, berikan pemahaman. Jika anak bertanya dan kebetulan orangtua tidak dapat menjawab pertanyaannya, maka katakan saja dengan jujur bahwa orangtua belum bisa menjawab dan akan segera mencari tahu jawabannya. 
Kita tahu bahwa kualitas hubungan dan komunikasi yang diberikan orangtua pada anak akan menentukan kualitas kepribadian dan moral mereka. Hubungan yang penuh akrab dan bentuk komunikasi dua arah antara anak dan orangtua merupakan kunci dalam pendidikan moral keluarga. Komunikasi yang perlu dilakukan adalah komunikasi yang bersifat integratif, dimana ayah, ibu dan anak terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dan menghindari model komunikasi yang bersifat dominatif atau suka menguasai.  Jika orangtua selalu mendominasi pembicaraan, tak henti-hentinya berbicara, menasihati, menyalahkan, menilai dan sebagainya, maka orangtyua yang seperti itu akan menjadi orangtua yang menyebalkan di mata anak-anak. Walaupun mungkin anak diam, tetapi jauh di lubuk hatinya akan ada perasaan jengkel terhadap orangtua yang demikian. Dan bisa saja seorang anak menyalurkan kekesalan dan kejengkelannya melalui saluran lain, misalnya dengan berceloteh di Facebook. Dan hal ini pernah terjadi, di mana salah seorang anak didik saya menuliskan status di akun facebook-nya  dengan menumpahkan kekesalan kepada orangtuanya yang terlalu banyak mengatur dan mendominsai pembicaraan. Saya bisa tahu status yang ditulisnya karena saya menjalin pertemanan dengan anak didik saya ini. Orangtuanya tidak mengetahui celoteh anaknya karena ia sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mempunyai akun Facebook. Bayangkan, berapa banyak  orang lain yang menjadi tahu permasalahan yang dialami si anak, karena membaca status yang ditulis oleh si anak itu tentang sifat orangtuanya.

Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua dalam membentuk moral anak melalui pendidikan dalam keluarga adalah menjaga kualitas hubungan dan komunikasi mereka, yaitu hubungan dan komunikasi yang ramah tamah dengan suasana demokrasi. Sebab keramahan dapat membuat anak merasa diterima.

Ada dua tingkatan hubungan antara orangtua dan anak dalam berkomunikasi yaitu pada tingkat feeling atau perasaan dan tingkat rasio atau logika.  Hubungan pada tingkat feeling atau emosi yaitu untuk pemahaman atau empati-empati yang berarti memahami perasaan seseorang tanpa harus larut dalam emosinya. Hubungan pada tingkat rasio atau logika juga diperlukan untuk memecahkan masalah dalam keluarga. Kedua bentuk hubungan ini perlu untuk diaplikasikan oleh orangtua dalam membina moral anak. Walau orangtua harus bersikap ramah dan demokratis pada keluarga bukan berarti menunjukan karakter yang lemah dan suka mengalah. Dalam membuat keputusan orangtua tetap bersifat demokratis tetapi tegas dan jelas.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut. ~ John Dewey ~