Seringkali
banyak orang menyepelekan aspek mendengar. Padahal kegiatan pertama yang
dilakukan oleh manusia ketika baru dilahirkan adalah mendengar. Dia belum bisa
berbicara apalagi melihat. Bahkan sebelum anak dilahirkanpun banyak orang tua
yang memperdengarkan berbagai hal seperti memperdengarkan alunan ayat-ayat suci
Al-Quran, puji-pujian, lagu-lagu klasik, atau diajaknya ngobrol oleh ayah dan
ibunya.
Memang
mendengar adalah kegiatan pasif, tetapi mendengar yang baik adalah kegiatan
aktif. Karena ia akan memfokuskan perhatiannya kepada aspek yang hendak
didengar. Mendengar yang baik akan membawa suasana komunikasi menjadi lebih
baik.
Berkaitan
dengan aspek mendengar, seringkali saya bertanya kepada anak-anak didik saya di
kelas tentang kriteria guru yang baik, hal ini saya lakukan sebagai evaluasi
diri dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada anak-anak didik saya.
Dan salah satu kriteria guru yang baik dan dicintai oleh mereka adalah guru
yang mau mendengar.
Guru yang
dicintai oleh anak didik adalah guru yang bisa menjadi pendengar yang baik.
Mendengar dalam hal ini lebih kepada upaya seorang guru untuk bisa memberikan
waktunya dengan penuh kerelaan dan ketulusan kepada anak didiknya yang sedang
menyampaikan pikiran maupun perasaannya. Hal ini merupakan kebutuhan setiap
manusia, termasuk anak didik, yakni didengarkan apa yang ingin disampaikannya.
Seorang guru
harus memperhatikan kesehatan mental anak-anak didiknya. Salah satu cara yang
dapat dilakukan guru berkenaan dengan hal tersebut adalah mejadi pendengar yang
baik bagi mereka. Setiap anak didik mempunyai kebutuhan untuk bisa menyampaikan
apa yang menjadi pikiran dan perasaannya. Kebutuhan ini harus bisa terpenuhi
dengan baik agar mereka mempunyai kesehatan mental yang baik. Apabila pikiran
atau perasaannya mereka diperhatikan dan didengarkan, ada kepuasan atau rasa
bahagia. Tetapi apabila yang terjadi adalah sebaliknya, yakni apa yang menjadi
pikiran dan perasaannya tidak didengar dengan baik, maka ada rasa kecewa di
hati.
Mendengarkan
apa yang disampaikan oleh anak didik bisa berlangsung pada saat pelajaran atau
di luar jam pelajaran. Hal terpenting yang harus diperhatikan ketika seorang
guru mendengar anak didiknya adalah mengenyampingkan ego. Walaupun kondisi guru
sedang “bermasalah” mempunyai persoalan atau beban hidup, namun sebagai seorang
guru yang baik dan mendidik, maka ia tetap harus bisa menjadi pendengar yang
baik bagi mereka. Sebagai guru yang baik tentu tidak akan memaksa anak didik
kita untuk memaklumi gurunya.
Sikap mau
menjadi pendengar yang baik menunjukkan bahwa guru memiliki empati yang baik
kepada anak didiknya. Sikap yang penuh empati dari seorang guru yang mau
mendengarkan apa yang menjadi pikiran anak didiknya, keluh kesahnya, usul dan
sarannya, bahkan ia akan tetap menjadi pribadi yang berpikiran terbuka dan
berlapang dada terhadap protes yang mungkin diajukan oleh anak didiknya.
Seringkali anak
didik juga membutuhkan tempat untuk curhat, karena tidak semua anak didik
bisa curhat
kepada kedua orangtuanya. Mungkin karena malu, takut dimarahi, atau tidak ada
waktu untuk mengemukakan isi hatinya karena orangtuanya yang sibuk bekerja.
Maka, guru sebagai orangtua mereka di sekolah, akan menjadi orang yang paling tepat untuk curhat.
Guru menjadi
orang yang paling tepat untuk curhat bagi anak didiknya, di samping karena lebih dewasa,
seorang guru juga bisa memasukkan nilai-nilai edukatif, konstruktif, membangun
motivasi dan tentu saja memberikan solusi. Akan tetapi, amat disayangkan jika
anak didik juga tidak menjadikan seorang guru sebagai orang yang tepat untuk curhat karena sang guru tidak pernah bisa
menunjukkan empati yang baik kepada anak didiknya.
Manakala seorang
anak didik berbuat masalah, melanggar tata tertib, berbuat onar, atau melanggar
aturan, sebagai seorang guru yang baik ia tidak akan langsung memberikan
hukuman kepadanya. Guru yang baik akan memberikan kesempatan kepada anak
tersebut untuk mengemukakan alasannya mengapa ia berbuat hal tersebut. Bisa saja
ia berbuat masalah karena ingin diperhatikan, ingir didengar, atau karena sedang
ada masalah. Maka dengan mendengarkan alasan-alasannya, guru dapat mengetahui
latar belakang ia berbuat hal tersebut. Dengan menjadi seorang pendengar, maka
guru tidak akan langsung memberikan atau menjatuhkan hukuman kepada anak didik
tersebut. Dan sesungguhnya bukan hukuman yang dijatuhkan, tetapi lebih kepada
pemberian pemahaman, memberikan motivasi, memahami dan memberikan solusi. Jika
guru harus “mendisiplinkan” anak didik yang kerap berbuat masalah, maka ada
jalan lain yang dapat ditempuh ketimbang memberikan hukuman. Jalan lain
tersebut adalah konsekuensi. Pemberian konsekuensi berarti menempatkan anak didik kita sebagai
seseorang yang kita hargai eksistensinya, bukan malah mempermalukannya. Karena guru memahami eksistensi anak didiknya, berarti anak didik tersebut diberikan tanggung
jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan.
Guru
berkarakter good listener adalah guru yang mau mendengarkan keluh-kesah
pelbagai persoalan anak didiknya, bukan justru guru yang menghakimi persoalan
anak didiknya. Menjadi pendengar yang baik, berarti guru menghargai eksistensi
anak-anak didiknya. Sungguh, seorang guru yang demikianlah yang diidam-idamkan
dan dicintai oleh mereka. Dan, pada saat anak didik merasa senang dan mencintai
gurunya, percayalah hal itu adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang
guru.
Students don't care how much you know
until they know how much you care.
Siswa
tidak peduli betapa pintarnya seorang guru, yang mereka pedulikan adalah apakah
guru tersebut juga peduli terhadap dirinya. ~ anonymous ~










