Anak-anak itu mirip semen basah, apapun yang jatuh di atasnya akan meninggalkan bekas, yang kalau tidak segera dihaluskan kembali, bekas tersebut akan mengeras selamanya. (Haim Ginott)

Sabtu, 21 September 2013

GURU BERKARAKTER PENDENGAR YANG BAIK (GOOD LISTENER)



Seringkali banyak orang menyepelekan aspek mendengar. Padahal kegiatan pertama yang dilakukan oleh manusia ketika baru dilahirkan adalah mendengar. Dia belum bisa berbicara apalagi melihat. Bahkan sebelum anak dilahirkanpun banyak orang tua yang memperdengarkan berbagai hal seperti memperdengarkan alunan ayat-ayat suci Al-Quran, puji-pujian, lagu-lagu klasik, atau diajaknya ngobrol oleh ayah dan ibunya. 
Memang mendengar adalah kegiatan pasif, tetapi mendengar yang baik adalah kegiatan aktif. Karena ia akan memfokuskan perhatiannya kepada aspek yang hendak didengar. Mendengar yang baik akan membawa suasana komunikasi menjadi lebih baik.
Berkaitan dengan aspek mendengar, seringkali saya bertanya kepada anak-anak didik saya di kelas tentang kriteria guru yang baik, hal ini saya lakukan sebagai evaluasi diri dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada anak-anak didik saya. Dan salah satu kriteria guru yang baik dan dicintai oleh mereka adalah guru yang mau mendengar.
Guru yang dicintai oleh anak didik adalah guru yang bisa menjadi pendengar yang baik. Mendengar dalam hal ini lebih kepada upaya seorang guru untuk bisa memberikan waktunya dengan penuh kerelaan dan ketulusan kepada anak didiknya yang sedang menyampaikan pikiran maupun perasaannya. Hal ini merupakan kebutuhan setiap manusia, termasuk anak didik, yakni didengarkan apa yang ingin disampaikannya.
Seorang guru harus memperhatikan kesehatan mental anak-anak didiknya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru berkenaan dengan hal tersebut adalah mejadi pendengar yang baik bagi mereka. Setiap anak didik mempunyai kebutuhan untuk bisa menyampaikan apa yang menjadi pikiran dan perasaannya. Kebutuhan ini harus bisa terpenuhi dengan baik agar mereka mempunyai kesehatan mental yang baik. Apabila pikiran atau perasaannya mereka diperhatikan dan didengarkan, ada kepuasan atau rasa bahagia. Tetapi apabila yang terjadi adalah sebaliknya, yakni apa yang menjadi pikiran dan perasaannya tidak didengar dengan baik, maka ada rasa kecewa di hati.
Mendengarkan apa yang disampaikan oleh anak didik bisa berlangsung pada saat pelajaran atau di luar jam pelajaran. Hal terpenting yang harus diperhatikan ketika seorang guru mendengar anak didiknya adalah mengenyampingkan ego. Walaupun kondisi guru sedang “bermasalah” mempunyai persoalan atau beban hidup, namun sebagai seorang guru yang baik dan mendidik, maka ia tetap harus bisa menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Sebagai guru yang baik tentu tidak akan memaksa anak didik kita untuk memaklumi gurunya.
Sikap mau menjadi pendengar yang baik menunjukkan bahwa guru memiliki empati yang baik kepada anak didiknya. Sikap yang penuh empati dari seorang guru yang mau mendengarkan apa yang menjadi pikiran anak didiknya, keluh kesahnya, usul dan sarannya, bahkan ia akan tetap menjadi pribadi yang berpikiran terbuka dan berlapang dada terhadap protes yang mungkin diajukan oleh anak didiknya.
Seringkali anak didik juga membutuhkan tempat untuk curhat, karena tidak semua anak didik bisa curhat kepada kedua orangtuanya. Mungkin karena malu, takut dimarahi, atau tidak ada waktu untuk mengemukakan isi hatinya karena orangtuanya yang sibuk bekerja. Maka, guru sebagai orangtua mereka di sekolah, akan  menjadi orang yang paling tepat untuk curhat.
Guru menjadi orang yang paling tepat untuk curhat bagi anak didiknya, di samping karena lebih dewasa, seorang guru juga bisa memasukkan nilai-nilai edukatif, konstruktif, membangun motivasi dan tentu saja memberikan solusi. Akan tetapi, amat disayangkan jika anak didik juga tidak menjadikan seorang guru sebagai orang yang tepat untuk curhat karena sang guru tidak pernah bisa menunjukkan empati yang baik kepada anak didiknya.
Manakala seorang anak didik berbuat masalah, melanggar tata tertib, berbuat onar, atau melanggar aturan, sebagai seorang guru yang baik ia tidak akan langsung memberikan hukuman kepadanya. Guru yang baik akan memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk mengemukakan alasannya mengapa ia berbuat hal tersebut. Bisa saja ia berbuat masalah karena ingin diperhatikan, ingir didengar, atau karena sedang ada masalah. Maka dengan mendengarkan alasan-alasannya, guru dapat mengetahui latar belakang ia berbuat hal tersebut. Dengan menjadi seorang pendengar, maka guru tidak akan langsung memberikan atau menjatuhkan hukuman kepada anak didik tersebut. Dan sesungguhnya bukan hukuman yang dijatuhkan, tetapi lebih kepada pemberian pemahaman, memberikan motivasi, memahami dan memberikan solusi. Jika guru harus “mendisiplinkan” anak didik yang kerap berbuat masalah, maka ada jalan lain yang dapat ditempuh ketimbang memberikan hukuman. Jalan lain tersebut adalah konsekuensi. Pemberian konsekuensi berarti menempatkan anak didik kita sebagai seseorang yang kita hargai eksistensinya, bukan malah mempermalukannya. Karena guru memahami eksistensi anak didiknya, berarti anak didik tersebut diberikan tanggung jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan.
Guru berkarakter good listener adalah guru yang mau mendengarkan keluh-kesah pelbagai persoalan anak didiknya, bukan justru guru yang menghakimi persoalan anak didiknya. Menjadi pendengar yang baik, berarti guru menghargai eksistensi anak-anak didiknya. Sungguh, seorang guru yang demikianlah yang diidam-idamkan dan dicintai oleh mereka. Dan, pada saat anak didik merasa senang dan mencintai gurunya, percayalah hal itu adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang guru.
Students don't care how much you know until they know how much you care. 
Siswa tidak peduli betapa pintarnya seorang guru, yang mereka pedulikan adalah apakah guru tersebut juga peduli terhadap dirinya. ~ anonymous  ~
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut. ~ John Dewey ~