Anak-anak itu mirip semen basah, apapun yang jatuh di atasnya akan meninggalkan bekas, yang kalau tidak segera dihaluskan kembali, bekas tersebut akan mengeras selamanya. (Haim Ginott)

Sabtu, 07 September 2013

MENGUKIR PRASASTI DENGAN MENULIS



Ketika saya memutuskan untuk memulai menulis, saya tidak mengira apa yang akan terjadi dan apa yang akan saya alami di kemudian hari. Ketika saya menegaskan pada diri sendiri bahwa saya harus menelurkan minimal sebuah karya tulisan dalam hidup saya, saya tidak membayangkan bahwa akan ada manfaat-manfaat lain yang mengikutinya dikemudian hari. Yang ada di dalam pikiran dan tekad saya waktu itu adalah bahwa saya harus segera menulis.
Galau Tingkat Dewa?
Mudah ditebak, kesulitan dan permasalahan yang pertama kali di alami oleh sebagian besar penulis ketika memulai adalah dari mana memulainya ? dan bagaimana memulainya ?
Itu pulalah yang saya alami ketika pertama kali hendak menulis. Saya harus memulainya dari mana? dan bagaimana memulainya ? tentu pertanyaan-pertanyaan lain yang menggelayuti pikiran semakin mempertebal keraguan dalam diri saya, bisakah saya menulis ? Jika boleh saya meminjam istilah anak muda zaman sekarang, kondisi yang saya alami pertama kali hendak menulis pada waktu itu ada pada level “Galau  Tingkat Dewa”.
Saya mencoba mencari beberapa buku tentang pedoman penulisan, saya baca dengan seksama, kemudian saya praktikkan, saya ikuti petunjuk-petunjuknya dan juga tips-tipsnya. Saya juga banyak bertanya kepada orang-orang yang sudah eksis dalam dunia penulisan. Dan tentu dengan motivasi yang semakin besar untuk menulis, serta sedikit “sentilan” dari istri dan anak saya “ Pokoknya ayah tulis aja yang ada di dalam kepala! ” maka tanpa ragu lagi sayapun memulai menulis.
Ternyata setelah memulai menulis yang saya rasakan adalah flow, ngalir bagai air. Saya tidak memperdulikan apakah kata-kata yang saya ketik salah atau benar, kalimatnya pas atau tidak?  Pokoknya hajar saja. Urusan salah benarnya nanti belakangan.
Di sadari atau tidak, yang menciptakan  mental blok penghalang untuk kita melakukan sesuatu (termasuk dalam menulis), ternyata bukan datang dari luar atau dari orang lain, malainkan datangnya dari dalam diri sendiri. Kitalah yang selama ini memberikan label pada diri sendiri dengan kalimat “tidak bisa”, kitalah yang menghalang-halanginya dengan keraguan dan “kegalauan tingkat dewa”.
Apa yang di dapat?
Dulu saya pernah bermimpi naik pesawat mengunjungi beberapa daerah. Saya juga pernah memimpikkan suatu saat saya bisa “nongol” di TV menjadi nara sumber. Tidak itu saja, saya juga bermimpi suatu hari nanti suara saya bisa didengarkan oleh orang banyak lewat siaran radio. Seringkali ketika saya ke toko buku, saya bertanya pada diri sendiri dan membayangkan  nama saya tercantum di sampul buku dan buku saya menjadi bagian dari deretan buku-buku lainnya. Alangkah indahnya jika saya juga bisa membubuhkan tanda tangan di buku itu, seperti para penulis-penulis lainnya.
Bisakah mimpi-mimpi itu terwujud ? Seandainya saya tidak menulis, maka mimpi-mimpi itu hanya akan tinggal mimpi saja. Karena ternyata setelah saya menghasilkan tulisan, mimpi-mimpi itu menjadi terwujud dan satu demi satu menjadi kenyataan. Bahkan hal-hal yang tidak pernah terbayang sebelumnya, turut menyertai dan mewarnai perjalanan hidup saya. Dan yang mengejutkan lagi efek samping lainnya dari menulis adalah saya harus menjadi seorang “konsultan” untuk membantu memecahkan berbagai macam persoalan para pembaca dan pendengar. Mulai dari cara mendidik anak, masalah rumah tangga, jodoh, karir, dan sebagainya. Semua terjadi setelah saya menghasilkan beberapa tulisan.
Sumber gambar : Google Gambar
Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh teman saya Edy Zaqeus, seorang bestseller writer, writer coach, professional editor, publishing consultant, & trainer, bahwa dengan menulis kita bisa mem-branding diri. Artinya tulisan kita bisa menjadi personal branding yang sangat baik. “Apakah saya bisa menulis, sayakan tidak punya bakat?” pertanyaan itu sering sekali saya terima ketika saya diminta untuk memberikan pelatihan menulis. Saya ingin menegaskan bahwa menulis itu tidak perlu bakat, yang diperlukan adalah kemauan. Titik ! Mulai saja menulis !
Ukirlah sebuah prasasti
Vox audita perit, littera scripta manet: "Suara yang terdengar akan hilang, kalimat yang tertulis akan tetap tinggal." Mari kita torehkan sebuah prasasti dengan menulis, minimal satu buku dalam hidup kita.

Rahmat Affandi
Guru SDN Bekasi Jaya I, pennulis buku, pemateri seminar dan workshop.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut. ~ John Dewey ~