Ketika saya memutuskan untuk memulai menulis, saya
tidak mengira apa yang akan terjadi dan apa yang akan saya alami di kemudian
hari. Ketika saya menegaskan pada diri sendiri bahwa saya harus menelurkan
minimal sebuah karya tulisan dalam hidup saya, saya tidak membayangkan bahwa
akan ada manfaat-manfaat lain yang mengikutinya dikemudian hari. Yang ada di
dalam pikiran dan tekad saya waktu itu adalah bahwa saya harus segera menulis.
Galau Tingkat Dewa?
Mudah ditebak, kesulitan dan permasalahan yang
pertama kali di alami oleh sebagian besar penulis ketika memulai adalah dari
mana memulainya ? dan bagaimana memulainya ?
Itu
pulalah yang saya alami ketika pertama kali hendak menulis. Saya harus memulainya
dari mana? dan bagaimana memulainya ? tentu pertanyaan-pertanyaan lain yang
menggelayuti pikiran semakin mempertebal keraguan dalam diri saya, bisakah saya
menulis ? Jika boleh saya meminjam istilah anak muda zaman sekarang, kondisi
yang saya alami pertama kali hendak menulis pada waktu itu ada pada level
“Galau Tingkat Dewa”.
Saya mencoba mencari beberapa buku tentang pedoman
penulisan, saya baca dengan seksama, kemudian saya praktikkan, saya ikuti
petunjuk-petunjuknya dan juga tips-tipsnya. Saya juga banyak bertanya kepada
orang-orang yang sudah eksis dalam dunia penulisan. Dan tentu dengan motivasi
yang semakin besar untuk menulis, serta sedikit “sentilan” dari istri dan anak saya “ Pokoknya ayah tulis aja yang
ada di dalam kepala! ” maka tanpa ragu lagi sayapun memulai menulis.
Ternyata setelah memulai menulis yang saya rasakan
adalah flow, ngalir bagai air. Saya
tidak memperdulikan apakah kata-kata yang saya ketik salah atau benar, kalimatnya
pas atau tidak? Pokoknya hajar saja.
Urusan salah benarnya nanti belakangan.
Di sadari atau tidak, yang menciptakan mental blok penghalang untuk kita melakukan
sesuatu (termasuk dalam menulis), ternyata bukan datang dari luar atau dari
orang lain, malainkan datangnya dari dalam diri sendiri. Kitalah yang selama
ini memberikan label pada diri sendiri dengan kalimat “tidak bisa”, kitalah
yang menghalang-halanginya dengan keraguan dan “kegalauan tingkat dewa”.
Apa
yang di dapat?
Dulu saya pernah bermimpi naik pesawat mengunjungi
beberapa daerah. Saya juga pernah memimpikkan suatu saat saya bisa “nongol” di
TV menjadi nara sumber. Tidak itu saja, saya juga bermimpi suatu hari nanti suara
saya bisa didengarkan oleh orang banyak lewat siaran radio. Seringkali ketika
saya ke toko buku, saya bertanya pada diri sendiri dan membayangkan nama saya tercantum di sampul buku dan buku saya
menjadi bagian dari deretan buku-buku lainnya. Alangkah indahnya jika saya juga
bisa membubuhkan tanda tangan di buku itu, seperti para penulis-penulis
lainnya.
Bisakah mimpi-mimpi itu terwujud ? Seandainya saya
tidak menulis, maka mimpi-mimpi itu hanya akan tinggal mimpi saja. Karena
ternyata setelah saya menghasilkan tulisan, mimpi-mimpi itu menjadi terwujud
dan satu demi satu menjadi kenyataan. Bahkan hal-hal yang tidak pernah
terbayang sebelumnya, turut menyertai dan mewarnai perjalanan hidup saya. Dan
yang mengejutkan lagi efek samping lainnya dari menulis adalah saya harus
menjadi seorang “konsultan” untuk membantu memecahkan berbagai macam persoalan
para pembaca dan pendengar. Mulai dari cara mendidik anak, masalah rumah
tangga, jodoh, karir, dan sebagainya. Semua terjadi setelah saya menghasilkan
beberapa tulisan.
![]() |
| Sumber gambar : Google Gambar |
Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh teman saya Edy Zaqeus, seorang bestseller
writer, writer coach, professional editor, publishing consultant, &
trainer, bahwa dengan menulis kita bisa mem-branding diri. Artinya tulisan kita
bisa menjadi personal branding yang sangat baik. “Apakah saya bisa menulis, sayakan tidak punya bakat?” pertanyaan itu
sering sekali saya terima ketika saya diminta untuk memberikan pelatihan
menulis. Saya ingin menegaskan bahwa menulis itu
tidak perlu bakat, yang diperlukan adalah kemauan. Titik ! Mulai saja menulis !
Ukirlah sebuah
prasasti
Vox audita perit, littera scripta manet: "Suara
yang terdengar akan hilang, kalimat yang tertulis akan tetap tinggal." Mari
kita torehkan sebuah prasasti dengan menulis, minimal
satu buku dalam hidup kita.
Rahmat Affandi
Guru SDN Bekasi Jaya I,
pennulis buku, pemateri seminar dan workshop.
