Anak-anak itu mirip semen basah, apapun yang jatuh di atasnya akan meninggalkan bekas, yang kalau tidak segera dihaluskan kembali, bekas tersebut akan mengeras selamanya. (Haim Ginott)

Sabtu, 27 Juli 2013

Karakteristik Guru yang Terpuji

Mahmud Samir Al-Munir dalam bukunya yang berjudul Guru Teladan di Bawah Bimbingan Allah menuliskan beberapa karakteristik guru yang terpuji. Berikut adalah karakteristik guru yang terpuji menurut Mahmud Samir Al-Munir :

  •  Seorang guru haruslah mempunyai akidah yang bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan atau norma-norma yang berlaku.
  • Guru juha harus konsisten menjalankan ibadah-ibadah yang sifatnya wajib dan juga ibadah-ibada yang sifatnya sunah. Menjauhi hal-hal yang bersifat haram, dan menghindari hal-hal yang bersifat makruh sebisanya, baik lahir baupun batin, perkataan dan perbuatan.
  • Seorang guru harus senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt, baik dikala sendiri maupun di tengah keramaian. Mengharap pahala-Nya, takut kepada azab-Nya, melakukan introspeksi atas kelalaian dan kekurangan. Senantiasa melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan kapasitas diri sebagai guru dengan lebih baik lagi.
  • Menyadari kekurangan diri. Tidak tertipu dan lupa diri dengan segala bentuk pujian. Hindari dan jauhkan diri dari sikap dan sifat ujub. Karena sesungguhnya orang yang tawadhu akan diangkat derajatnya oleh Allah Swt.
  • Hendaklah selalu menanamkan motivasi dalam diri bahwa mengajar itu adalah sebagai ibadah, menyebarkan ilmu dan ladang untuk mencari pahala.
Semoga bermanfaat.


Sumber tulisan :
Mahmud Samir Al-Munir : Guru Teladan di Bawah Bimbingan Allah

 

Rabu, 24 Juli 2013

Air Susu Ibu (ASI) dan Pendidikan Kasih Sayang

Air Susu Ibu (ASI), ya cairan susu ibu ini bisa dikatakan sebagai sumber makanan dan minuman ajaib yang dapat diberikan oleh ibu kepada bayinya, dan tentu saja ini adalah anugrah yang tiara terkira dari Sang Pencipta. Mengapa dikatakan ajaib ? Karena segala macam nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi sudah tersedia di dalam ASI ini, bahkan dengan komposisi dan takaran yang sudah sangat pas untuk pertumbuhan bayi.  Tidak hanya nutrisi lengkap yang terkadung di dalam ASI, zat imunitas juga ada di dalamnya.
ASI sarat dengan kandungan zat-zat yang dibutuhkan bayi pada masa awal petumbuhannya. ASI mengandung lebih banyak vitamin, mineral yang lebih seimbang dan lebih banyak gula susu (laktosa ) daripada susu sapi. ASI juga dijamin sepenuhnya steril, bernutrisi dan selalu berada dalam temperatur yang cocok untuk bayi. Mengandung lebih sedikit protein, kasein dan garam bersifat ringan sehingga mudah dicerna daripada susu sapi. Kasein pada susu sapi bersifat padat dan sulit dicerna, merangsang alergi, menyebabkan diare.
Dengan hanya ASI bayi sudah cukup nutrisi  tidak perlu makanan pendamping lain. Banyak sekali manfaat dan kebaikan ASI bagi bayi, diantaranya memberikan kekebalan alami bagi tubuh sehingga bayi tidak mudah terserang penyakit, aman dan steril untuk dikonsumsi bayi.  Air susu yang pertama kali keluar atau yang disebut dengan kolostrum yang berupa cairan bening berwarna kekuningan yang keluar sejak hari pertama ibu melahirkan, kolostrum adalah makanan separuh cerna yang mudah diserap oleh bayi, dan memberikan zat anti bodi yang berjuta juta baiknya bagi bayi.
Menyusui bukan hanya sekedar transfer makanan dan zat gizi dari si ibu kepada bayinya, lebih dari itu menyusui merupakan sebuah proses yang dapat mempererat ikatan antara ibu dan bayi.  Ketika si ibu menyusui bayinya, dengan mendekapnya penuh kasih sayang, sesungguhnya si ibu sedang memberikan pendidikan kasih sayang. Kasih sayang yang diberikan si ibu akan membuatnya mampu menyayangi orangtuanya, menyayangi saudaranya, menyayangi lingkungannya, dan Isnya Allah akan membuatnya menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan bernurasi.
Tidak hanya bagi bayi, pemberian ASI juga memberikan manfaat bagi si ibu. Manfaat lain dari pemberian ASI bagi ibu adalah terbentuknya pola ikatan dan komunikasi yang kuat antara ibu dan bayi karena sesaat setelah lahir perawat akan menaruh bayi di atas dada ibunya dan membiarkan bayi berusaha untuk mencari sumber kehidupannya melalui ASI ibunya (inisiasi dini). Nah saat menyusui inilah akan terjalin kedekatan antara ibu dan bayi. Detak jantung, sentuhan dan kontak mata dari ibu adalah proses komunikasi yang membantu menjalin hubungan psikologis yang positif antara ibu dan bayi dan akan sangat membantu dalam menstimulasi perkembangan indera bayi. Memberikan ASI kepada bayi berarti juga mempercepat proses alamiah dalam menyusutkan ukuran rahim dan mengembalikannya ke bentuk yang normal.
Hisapan bayi pada puting susu ibu akan menstimulasi tubuh untuk menghasilkan sebuah hormon yang disebut hipotalamus yang berguna untuk mempercepat proses penyusutan /pengecilan tubuh. Tidak hanya itu, energi ekstra yang dibakar tubuh untuk memproduksi ASI dapat membantu  sang  ibu lebih cepat dan kembali ke bentuk tubuhnya yang ideal. Subhanallah.
Selain komposisinya yang sempurna, ASI  juga sangat praktis dan ekonomis. Sekarang harga susu formula cenderung terus meningkat, memberi ASI dapat mengurangi biaya untuk susu formula yang cukup tinggi. Selain itu ASI sangat praktis, ibu tidak perlu repot mencuci dan merebus botol pada masa pemberian asi ekslusif, sehingga bisa menambah waktu istirahat bagi ibu, khususnya di malam hari.
Terlepas dari kesempurnaan dan segala kebaikan yang terdapat di dalam ASI,  maka menyusui merupakan ungkapan kasih sayang yang nyata dari ibu kepada bayinya. Salah satu bentuk pendidikan yang diberikan oleh ibu kepada anaknya. Menyusui bayi berarti melakukan komunikasi dengan menabur benih-benih  cinta dan kasih sayang, kelembutan dan keikhlasan.
“ Para ibu  hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan masa penyusuan…”
~ (QS. Albaqarah : 233)
Alangkah sangat bijaksana jika seorang ibu tidak mengganti ASI dengan susu formula. Pemberian ASI pada masa dua tahun pertama menjadi sangat penting, karena pada masa ini pola pengasuhan dan pendidikan terhadap anak akan sangat menentukan perkembangan bagi masa-masa berikutnya. Dua tahun pertama sejak kelahiran merupakan tahun-tahun emas, karena pada masa ini anak mulai belajar berbicara, belajar berjalan, belajar mengenali, dan belajar banyak tentang lingkungannya. Pada usia ini bagi seorang anak merupakan masa belajar, karena sepanjang hidupnya adalah belajar. Oleh karena itu segala bentuk informasi yang diberikan oleh orangtua hendaknya manjadi bahan pembentukan karakter dan akhlak mulia bagi sang anak.
Dan jika terpaksa si ibu harus mengganti ASI dengan susu formula karena suatu sebab, misal karena air susunya tidak keluar, maka lakukanlah pemberian susu formula itu dengan penuh kelembutan, dengan penuh kasih sayang, kontak mata antara ibu dan bayi akan semakin mempererat pertalian bathin. Pada waktu mempersiapkan  susu formula untuk sang buah hati, maka iringilah dengan doa. Ingat air akan merespon segala informasi yang masuk kepadanya. Maka selain air dan susu formula yang dimasukanlah ke dalam botol itu jangan lupa untuk memasukkan juga doa, harapan, sugesti positif, cinta dan kasih sayang. Walaupun ASI tidak akan tergantikan dengan susu formula, tetapi dengan cinta dan ketulusan, dengan kasih sayang dan keikhlasan, dengan doa dan harapan Insya Allah akan tumbuh generasi yang baik sesuai dengan yang diharapkan oleh orangtua. Allah Maha Mendengar, Allah Maha Mengetahui. Insya Allah.

Menjalin Komunikasi yang Baik dengan Anak

Komunikasi yang baik akan meningkatkan kualitas cinta dan kasih sayang orangtua terhadap anak dan begitupun sebaliknya. Berkomunikasi dengan anak sangat diperlukan bagi setiap orangtua, karena komunikasi yang baik akan menjalin hubungan yang baik pula antara anak dengan orangtua. Anak itu ibarat kertas putih, apa yang diajarkan itulah yang ia pelajari, apa yang dengarnya itulah yang akan dia ucapkan, apa yang dia rasakan itu pulalah yang akan mereka katakana, apa yang mereka lihat itulah yang akan mereka lakukan. Jadi komunikasi yang baik dengan anak perlu diterapkan disetiap keluarga kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Karena dengan berkomunikasi yang baik akan membantu perkembangan anak menjadi lebih baik.

Sumber gambar : Thema Powerpoint
Berkomunikasi yang baik dengan anak selain akan mendapatkan hubungan yang baik, juga menjadikan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi anak akan lebih baik dengan masyarakat atau teman-temannya, karena secara tidak langsung orangtua telah memberikan pembelajaran yang sangat berharga pada anak.

Saya yakin dan kita semua sudah tahu bahwa komunikasi yang efektif sangat penting dalam sebuah keluarga.  Komunikasi yang dijalin secara positif antara orangtua dengan anak dan dengan seluruh angota keluarga, akan membuka keran kemesraan, kehangatan, kenyamanan, saling percaya dan tentu akan semakin meningkatkan kualitas hubungan antar seluruh anggota keluarga. Kaulitas hidup akan menjadi semakin baik.

Tetapi permasalahannya adalah tidak semua orangtua memahami bagaimana komunikasi yang positif itu, sehingga yang banyak terjadi adalah komunikasi yang monoton dan cenderung searah, yaitu top-down. Orangtualah yang lebih banyak mengambil peranan, sehingga cenderung mengabaikan dan mengesampingkan anak. Padahal komunikasi yang baik dan positif adalah komunikasi yang multi arah. Adanya hubungan timbal balik yang baik dan saling mengisi, bukan mendikte.
Seorang anak yang merasa terus-menerus di salahkan, terus-menerus di kritik, didikte, ditekan harus melakukan ini dan itu, maka ia akan  tumbuh menjadi orang dewasa dengan konsep diri yang negatif, karena dalam perkembangannya, pengalamannya hidupnya ia banyak mendapatkan tekanan, paksaan, disalahkan dan sebagainya. Apakah sebagai orangtua kita akan membangun konsep diri dan kepribadian anak seperti itu ? tentu tidak bukan ? Biasanya anak dengan kondisi demikian adalah produk dari pola asuh yang otoriter. Pola asuh seperti ini cenderung menuntut anak. Bila tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan, maka orangtua akan langsung marah-marah. Akibatnya anak selalu takut berbuat salah. Padahal kita tahu bahwa anak-anak seringkali berbuat kesalahan, dan itu adalah hal yang wajar dilakukan anak yang dalam proses pembelajarannya. Bukankah kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar ? Anak mengambil jalan aman dengan berbohong ketimbang kena marah.

Karena saya seorang guru, maka saya akan mencoba menceritakan suatu peristiwa yang memang bukan sekali saja terjadi di sekolah. Peristiwa yang akan saya ceritakan ini biasanya terjadi ketika pembagian raport. Sudah menjadi kebiasaan bahwa yang mengambil raport murid-murid di sekolah adalah orangtuanya, bisa ayahnya atau ibunya, tetapi banyak juga yang kedua-duanya datang untuk mengetahui dan berkonsultasi dengan saya mengenai perkembangan anaknya di sekolah.
Ada seorang ibu yang ngotot dan marah ketika mengetahui nilai yang tertera pada raport anaknya itu adalah nilai yang pas-pasan. Si ibu ini begitu yakin bahwa saya melakukan kesalahan yang fatal dalam menuliskan nilai pada raport anaknya. Sang ibu mengutarakan argumentasinya bahwa selama ini nilai anaknya selalu bagus, dan itu terbukti dari ulangan-ulangan yang diberikan oleh anaknya kepada sang ibu. Saya tidak membalas dengan marah lagi, saya hanya tersenyum saja, karena saya yakin bahwa si ibu telah dibohongi oleh anaknya. Untuk meyakinkannya sayapun menyodorkan daftar nilai ulangan harian, tugas-tugas, maupun PR kepada sang ibu ini. Beliau tidak yakin dengan penglihatannya. Kemudian sayapun menjelaskan kondisinya, bahwa anaknya memang seringkali mendapat nilai yang pas-pasan kalau ulangan. Dan mungkin karena merasa takut terhadap ibunya, maka si anak lebih memilih membuang dan tidak memberikan hasil  ulangan yang nilainya pas-pasan itu ketimbang nanti dimarahinya. Hanya hasil ulangan yang nilainya baguslah yang diberikan kepada ibunya, karena dengan demikian ia tidak akan dimarahi dan tentu akan mendapat pujian.

Kejadian nyata yang saya ceritakan itu adalah salah satu produk dari pola komunikasi yang selama ini dilakukan oleh sebagian orangtua terhadap anaknya, yaitu komunikasi yang otoriter. Komunikasi yang ototriter juga cenderung satu arah, di mana dalam tipe komunikasi satu arah ini hanya ada satu figur sentral yang mendominsai, bisa ayah atau ibu. Dan figur sentral ini mempunyai kewenangan, kekuasaan untuk menentukan kapan anak boleh bicara atau tidak. Pola seperti ini jika diteruskan terjadi, maka akan membuat  anak menjadi seorang yang tertutup pada orangtuanya.
Ada juga yang di rumahnya jarang terjadi komunikasi. Walaupun tidak ada masalah antara orangtua dengan anaknya. Misal, orangtua pulang kantor karena capek ia langsung masuk kamar. Anak pun demikian, pulang sekolah langsung mengunci diri di kamar. Akibatnya orangtua tidak tahu keadaan dan kebutuhan anak, begitupun anak tidak dapat berinteraksi dengan baik terhadap orangtuanya. Walaupun ada komunikasi, hanya sebatas basa-basi saja. Contohnya, ibu bertanya kepada anaknya, " Bagaimana tadi di sekolah?" anak hanya menjawab, "Ah, enggak apa-apa. Biasa-biasa saja !" Jadi di saat orangtua atau anak ingin menggali cerita lebih dalam, komunikasi tidak dapat terwujud karena tidak ada saling keterbukaan, komunikasi yang terjalin sudah terlanjur kaku, canggung dan hambar. Biasanya komunikasi seperti ini penyebabnya adalah karena antara orangtua ataupun anak sama-sama sudah merasa capek dengan aktivitas dan rutinitas sehari-hari.
 Seyogyanya antara orangtua dan anak terjadi suatu komunikasi yang hidup dan positif. Komunikasi yang positif adalah tipe komunikasi yang paling sehat. Antara anak dan orangtua terjalin komunikasi saling terbuka. Orangtua mau mendengarkan anak dan anak secara leluasa dapat bercerita, mengeskpresikan perasaan, curahan hatinya, kesedihan, kegembiraan, pengalamannya,  dan pikiran-pikirannya serta berdiskusi dengan orangtua. Tipe komunikasi ini cenderung lebih demokratis dan hangat.

Bagaimana menciptakan komunikasi yang positif ? Berikut bisa dijadikan referensi bagi para orangtua dalam membangun komunikasi yang positif :
  • Jangan membawa masalah pekerjaan di depan anak. seberat apapun masalah atau problem yang dihadapi di kantor, jangan sampai anak melihat kekesalan, kekecewaan, apalagi umpatan-umpatan dan sumpah serapah kita, jangan sampai kekesalah tertumpah kepada anak. Apapun keburukan anak, bisa jadi merupakan buah dari perkataan orangtuanya.
  • Jika orangtua, antara ayah dan ibu ada masalah, maka jangan sampai diributkan di depan anak. Ketika berkumpul antara ayah, ibu dan anak, maka sebagai orangtua yang baik, pendamlah dulu emosi dalam-dalam. Akan sangat tidak baik apabila orangtua berantem dan ribut di depan anak-anak. selesaikan masalah di tempat lain yang tidak diketahui atau di dengar oleh anak.
  • Saat berkomunikasi atau berbicara dengan anak, gunakanlah bahasa yang sederhana, mudah dimengerti dan usahakan menggunakan kata yang kongkrit terlebih kepada anak di bawah tujuh tahun.
  • Hendaknya orangtua  jangan membumbui perkataannya dengan menakut-nakuti anak. Misal   “ Dek, kamu jangan manjat-manjat pohon, nanti kamu jatuh lho. Kalau kamu jatuh terus kaki kamu patah bagaimana ? Kamu nanti dibawa ke dokter terus kakinya dioperasi !” sebaiknya orangtua mengatakan dengan kalimat yang positif dan menghindari kata-kata negatif. Katakan saja kepada anak “ Dek, mainnya di bawah saja ya, lebih aman !”
  • Supaya anak memamahi apa yang dibicarakan oleh orangtua, maka perhatikan nada bicara, tempo dan mimik muka. Jangan samapi berkomunikasi dengan perkataan yang cepat tetapi tidak jelas maknanya.
  • Tumbuhkanlah sikap saling terbuka, saling menghargai, saling memahami dan kehangatan, sehingga komunikasi akan berjalan dengan lebih cair dan efektif.
  • Walaupun posisi kita sebagai orangtua, tetapi hendaknya saat berkomunikasi dengan anak, kita usahakan untuk lebih banyak menjadi pendengar yang baik. Dengan lebih banyak mendengarkan anak, orangtua jadi dapat mengetahui kebutuhannya, apa yang diinginkan, dirasakan, diharapkan, pemikiran-pemikirannya, pendapatnya atau kritikan-kritikannya kepada kita dan sebagainya. Tetapi, bukan berarti karena menjadi pendengar yang baik lantas orangtua menjadi pasif. Yang benar adalah bersikaplah proaktif. Perhatikan hal-hal sekecil apapun yang timbul dari anak, dan orangtua harus pandai-pandai memancing agar anaknya mau berbicara. Misal saat anak pulang sekolah terlihat sangat kelelahan, cobalah untuk bertanya “ Kenapa sayang, kelihatannya lemes banget ?” Nah bentuk perhatian seperti ini akan mendorong anak untuk mau bercerita mengenai keadaannya kepada orangtua.
“Ketika kita belajar mendengar, kita tidak saja sedang membuat orang lain bahagia,
kita juga sedang membuka lapisan-lapisan diri ini yang lebih mulia.”
(Gede Prama) 
  • Saat berkomunikasi, uasahakan untuk tersenyum dengan tulus. Karena 50 % komunikasi dilakukan dengan bahasa tubuh termasuk mimik muka atau ekspresi wajah. Bahasa tubuh ini akan menambah pemahaman anak daripada kalimat-kalimat atau bahasa-bahasa yang intelektual.
  • Tunjukkan sikap antusian di depan anak-anak, karena dengan demikian, anak akan merasa diperhatikan oleh orangtuanya.
  • Gunakanlah kacamata anak-anak, artinya anak-anak melihat berbagai hal dengan cara pandang yang berbeda, anak-anak akan melihat dan menilai sesuatu menurut pemahamannya, dengan persepsinya. Mereka melihatnya dengan kacamata mereka, bukan kacamata orangtua. Karena bentuk perhatian, prioritas dan sistem nilai mereka memang berbeda dengan orang dewasa. Untuk itu gunakan standar mereka, agar komunikasi lebih cair. Kitalah yang harus memasuki dunia mereka, bukan memaksa mereka untuk masuk ke dunia kita.
  • Libatkanlah anak-anak. Jika ada bagian dari komunikasi atau bicara antara orangtua dengan anak yang membutuhkan atau memungkinkan mereka bisa tampil, meminta pendapatnya, maka berikan kesempatan itu pada mereka. Terkadang ide-ide, gagasan, pendapat anak itu lebih segar, brilliant, orisinil, dan tentunya akan ada kejutan-kejutan yang di luar perkiraan kita. Karena biasanya anak-anak lebih banyak menggunakan otak kanannya, daripada orangtua yang cenderung lebih banyak menggunakan otak kirinya.
  • Berikan penguatan-penguatan dan motivasi, tentu penguatan dan motivasi ini harus wajar dan logis. Jangan sampai orangtua memuji secara berlebihan atas pebuatan kecil yang dilakukan anak, karena anak akan menganggap itu sebagai sindiran.
  • Jujurlah kepada anak, dalam menjelaskan atau mengomunikasikan sesuatu dengan anak-anak, hendaknya orangtua berlaku jujur, dalam arti tidak membodohi dan membohongi anak. Jelaskan dengan jujur, berikan pemahaman. Jika anak bertanya dan kebetulan orangtua tidak dapat menjawab pertanyaannya, maka katakan saja dengan jujur bahwa orangtua belum bisa menjawab dan akan segera mencari tahu jawabannya. 
Kita tahu bahwa kualitas hubungan dan komunikasi yang diberikan orangtua pada anak akan menentukan kualitas kepribadian dan moral mereka. Hubungan yang penuh akrab dan bentuk komunikasi dua arah antara anak dan orangtua merupakan kunci dalam pendidikan moral keluarga. Komunikasi yang perlu dilakukan adalah komunikasi yang bersifat integratif, dimana ayah, ibu dan anak terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dan menghindari model komunikasi yang bersifat dominatif atau suka menguasai.  Jika orangtua selalu mendominasi pembicaraan, tak henti-hentinya berbicara, menasihati, menyalahkan, menilai dan sebagainya, maka orangtyua yang seperti itu akan menjadi orangtua yang menyebalkan di mata anak-anak. Walaupun mungkin anak diam, tetapi jauh di lubuk hatinya akan ada perasaan jengkel terhadap orangtua yang demikian. Dan bisa saja seorang anak menyalurkan kekesalan dan kejengkelannya melalui saluran lain, misalnya dengan berceloteh di Facebook. Dan hal ini pernah terjadi, di mana salah seorang anak didik saya menuliskan status di akun facebook-nya  dengan menumpahkan kekesalan kepada orangtuanya yang terlalu banyak mengatur dan mendominsai pembicaraan. Saya bisa tahu status yang ditulisnya karena saya menjalin pertemanan dengan anak didik saya ini. Orangtuanya tidak mengetahui celoteh anaknya karena ia sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mempunyai akun Facebook. Bayangkan, berapa banyak  orang lain yang menjadi tahu permasalahan yang dialami si anak, karena membaca status yang ditulis oleh si anak itu tentang sifat orangtuanya.

Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua dalam membentuk moral anak melalui pendidikan dalam keluarga adalah menjaga kualitas hubungan dan komunikasi mereka, yaitu hubungan dan komunikasi yang ramah tamah dengan suasana demokrasi. Sebab keramahan dapat membuat anak merasa diterima.

Ada dua tingkatan hubungan antara orangtua dan anak dalam berkomunikasi yaitu pada tingkat feeling atau perasaan dan tingkat rasio atau logika.  Hubungan pada tingkat feeling atau emosi yaitu untuk pemahaman atau empati-empati yang berarti memahami perasaan seseorang tanpa harus larut dalam emosinya. Hubungan pada tingkat rasio atau logika juga diperlukan untuk memecahkan masalah dalam keluarga. Kedua bentuk hubungan ini perlu untuk diaplikasikan oleh orangtua dalam membina moral anak. Walau orangtua harus bersikap ramah dan demokratis pada keluarga bukan berarti menunjukan karakter yang lemah dan suka mengalah. Dalam membuat keputusan orangtua tetap bersifat demokratis tetapi tegas dan jelas.

Senyum dalam Mendidik Anak

Senyum dalam Mendidik Anak
Senyum adalah sedekah. Senyum itu murah tetapi sangat berharga nilainya, senyum itu sederhana tetapi dampaknya sangat luar biasa, senyum itu kecil tetapi berdampak raksasa, senyum itu obat yang manis yang mempunyai efek penyembuhan luar biasa, senyum itu hanya setetes tetapi mampu membasahi dan membanjiri relung-relung hati yang tandus, senyum itu ringan tetapi Insya Allah akan memberatkan timbangan amal kebaikan. Senyum itu indah, senyum itu ibadah. Orang tua yang mau mengajak anaknya untuk belajar mulailah dengan senyum, karena senyum akan menentramkan, dan menenangkan.
Anak adalah seorang great imitator, seorang peniru yang ulung. Jika orangtua dalam kesehariannya membiasakan diri untuk tersenyum, maka kebiasaan itu akan ditiru dan dikembangkan oleh anak. berbahagialah jika memiliki seorang anak yang bermurah senyum, karena anak seperti ini biasanya adalah akan sangat mudah dalam bergaul, supel, diterima dalam pergaulan dan tentu saja disenangi teman-temannya, bahkan orang dewasa.
Orangtua hendaknya pandai menciptakan suasana yang menyenangkan di rumah. Suasana yang menyenangkan itu salah satunya diawali dengan senyum. Seringkali suasana di rumah ditentukan oleh keadaan. Misal kalau tangal-tanggal muda, biasanya suasana rumah selalu ceria, senyum selalu mengembang, bahagia. Sebaliknya kalau sudah memasuki tanggal-tanggal tua, maka keceriaan, kebahagiaan itu berkurang. 
Semestinya kondisi seperti itu tidak terjadi. Kapanpun, di manapun, dalam keadaan apapun tetap selalu kembangkan senyum. Sebagai orangtua tentu kita tidak ingin menularkan muka-muka yang masam kepada anak-anak bukan ? Insya Allah akan tercipta anak-anak dengan pribadi yang sabar, tulus, rendah hati dan pandai beribadah.
Selain sebagai ibadah, senyum juga mengandung keindahan. Senyum yang dapat memperindah wajah, karena biasanya wajah yang tersenyum mencerminkan perasaan yang senang dan tenang. Senyum pun merupakan ibadah yang paling mudah dilakukan, tetapi mampu menyempurnakan kemuliaan akhlak. Karena senyum yang ikhlas adalah kecantikan yang lahir dari hati dan jiwa yang ikhlas. Senyum merupakan anugerah yang bisa menenangkan perasaan, menyejukkan dan menentramkan hati yang gelisah.
Dengan senyum seseorang akan tampil cantik ataupun tampan wajahnya walau tanpa kosmetika,  dan yang jelas, kosmetika senyum ini tidak membuat iritasi pada kulit ataupun menimbulkan efek samping bagi kesehatan. Nah pertanyaannya adalah mengapa kita harus tersenyum ? lebih-lebih dalam mendidik anak ? Senyuman yang ikhlas, yang simetris dan lahir dari hati yang jernih ternyata dapat menjaga kebugaran tubuh.
Menurut penelitian para hali, dengan tersenyum akan menimbulkan munculnya semacam hormon endorphin pada diri orang yang tersenyum. Hormon endorphin ini akan mengatur emosi seseorang, menciptakan irama kebahagiaan. Itulah mengapa senyum menjadi penting dalam mendidik anak, karena dengan senyum, selain menciptakan keselarasan dalam tubuh, juga menularkan kabahagiaan dan kenyamanan bagi anak.

Tips-Tips sabar menghadapi anak yang tidak mau belajar


Oleh Rahmat Affandi       
   
Berikut adalah tips-tips sabar dalam menghadapi anak-anak yang tidak mau belajar :
  1. Temukan segera akar permasalahan mengapa anak tidak mau belajar, dengan mengungkap motif dibalik ”mogoknya” itu, mungkin anak berlaku seperti itu karena ingin diperhatikan, ingin didengarkan, mengajukan tuntutan, ingin diakui, mengajukan protes, atau bisa juga menolak apa yang diperintahkan. Hindari prasangka-prasangka negatif dengan tetap berpikir positif.
  2. Kalau anak komplain, biasanya karena mereka merasa diperlakukan tidak fair jika sedang mengalami kesulitan, maka biasanya situasi akan membaik setelah orang tua memahami dan memenuhi kebutuhannya.Pastikan kepada anak-anak  bahwa orang tua tetap mencintai dan menyayanginya.
  3. Kuasai diri dengan baik, karena dengan menguasai diri kita akan tetap bersikap tenang dan berpikir rasional.
  4. Duduklah dengan tenang dan cari tempat yang nyaman.
  5. Jangan marah, karena dengan marah, besar kemungkinan akar permasalahan dan nilai-nilai kebenaran akan tersembunyi. Dan kalaupun terpaksa harus marah, marahnya harus tetap proporsional dan rasional.
  6. Hindari hukuman fisik, karena dengan hukuman fisik akan mengakibatkan anak memilih untuk berbohong dari pada berbicara yang sebenarnya.
  7. Fokuskanlah pada pemberian reward untuk perilaku positif.
  8. Teruslah membuka kran heart to heart communication (komunikasi dari hati ke hati) agar bisa membangun pemahaman pada diri anak tentang perilaku yang baik, atau mendiskusikan akibat yang tidak baik dari perilaku yang tidak terpuji.
  9. Jangan takut pada ancaman anak, lantas kita mengabulkan permintaannya, karena hal itu akan membangun dan menjadikannya sebuah teknik baru, bahwa “ngambek” merupakan cara jitu untuk memperoleh sesuatu.
  10. Tetaplah kembangkan senyum hangat yang menentramkan, ajak belajar (jangan menyuruh belajar), dan tebarkan kelembutan tutur kata dan sikap.
  11. Pecahkan permasalahan secara bersama-sama, berdiskusi secara sinergis untuk mencari solusi terbaik.
  12. Tetaplah berusaha, berdo’a dan bertawakal.

Selasa, 23 Juli 2013

Testimoni yang Membakar Semangat untuk Menulis




Ketika pertama kali mencoba untuk menulis, terus terang saya merasa sangat tidak pede. Apakah saya bisa menulis ? pertanyaan it uterus saja menggelayuti pikiran saya. Naskah tulisan sudah selesai, tetapi kegelisahan masih menyelimuti, akan diapakan naskah ini. Apakah layak untuk diterbitkan ? saya teringat buku teknik penulisan yang saya baca. Akhirnya saya memutuskan untuk “memberikan” naskah asli tulisan saya itu kepada beberapa orang terdekat, termasuk beberapa orang  tua murid. Saya meminta kepada mereka untuk menilai secara objektif tentang isi tulisan saya itu.

Sungguh di luar dugaan, ternyata tulisan saya direspon dengan sangat positif.  Rata-rata mereka memberikan komentar dan penilaian yang sangat baik dan positif, tentu saja beberapa saran dan kritik yang membangun turut menyertai komentar mereka.

Terpikir di benak saya untuk mendapatkan semacam testimoni dari beberapa tokoh yang berpengaruh di negeri ini untuk buku saya, agar buku saya ini bisa lebih “kuat”.  Tokoh pertama yang muncul di kepala saya dan ingin saya dapatkan testimoninya adalah Kak Seto. Apakah bisa ? pertanyaan itulah yang pertama muncul dan menghalangi di depan saya. Siapa sih rahmat Affandi ? apakah Kak Seto akan mengenal saya ? tentu jawabannya adalah tidak ! Galau menyelimuti jiwa.

Baiklah, kesampingkan dulu sosok Kak Seto dari angan-angan saya. Karena saya ingin mengejar dulu testimony dari orang yang menulis buku tentang teknik penulisan. Toh saya berani menulis kan karena membaca buku dia ? saya mencaoba menguatkan diri. Dan singkat cerita, sayapun mendapatkan testimoni dari penulis Buku Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller, yaitu dari Mas Edy Zaqeus.

Setelah saya mendapatkan suntikan energy dari beliau, saran dan do’a beliau, akhirnya saya memberanikan diri mencoba memohon testimoni dari Kak Seto. Sayapun mengirimkan naskah saya melalui email beliau. Berselang satu hari setelah saya mengirimkan naskah, beliau menelpon saya. Sungguh suatu hal yang tidak dapat saya percayai, ini mimpi atau nyata ? Suara lembut Kak Seto terdengar begitu merdu di telinga saya. Tentu saja secara otomatis saya mendapatkan nomor HP beliau, wah bahagaianya.

Kak Seto sangat menyambut baik dan dengan suka cita memberikan testimoninya untuk buku saya yang pertama “ Inspiring Mom and Dad”. Beliau sangat mengapresiasi sekali guru yang menulis.

Selanjutnya saya menncoba menghubungi beberapa tokoh lainnya untuk saya mintakan testimoninya, dan inilah sebagian testimoni penyemangat jiwa untuk saya terus menulis.

“ Ini bukan buku parenting biasa, tetapi buku parenting yang penuh nilai plus dan ideal sekali. Menarik dan enak dibaca, memotivasi sekali, juga inspiratif. Lebih dari itu buku ini ditulis oleh seorang guru dalam artian sebenarnya.”

Edy Zaqeus
Pendiri dan editor andaluarbiasa.com, Penulis Bestseller,
Writer Coach, Trainer dan Konsultan.

“ Sungguh buku yang sangat inspiratif ! Kita semua diajak Pak Rahmat untuk terus belajar dengan rendah hati mengenai Hak Anak dari sumber yang paling kompeten, yaitu dari anak-anak itu sendiri. Bahwa mendidik anak adalah bukan sekedar memberikan instruksi atau komando, tetapi memberikan cinta dan kasih kita kepada mereka.”
Kak Seto
Ketua  Komisi Nasional  Perlindungan Anak.

“ Sistem pendidikan kita selama ini lebih berorientasi pada pembentukan intelektualitas dan melupakan pembentukan kepribadian, sehingga anak-anak kita sering tercabut dari akar budayanya sebagai bangsa.  Buku Pak Rahmat ini saya percaya dapat menjadi perekat antara sekolah dengan orang tua/keluarga murid untuk berhasilnya suatu pendidikan yang lebih universal.”
K.H. Zainuddin MZ

"Sebuah buku yang sangat inspiratif dan menggugah. Gaya bahasanya pun nyaman dibaca, sehingga tak terasa sudah sampai di ujung halaman. Saya mendapat banyak manfaat setelah membaca buku ini."

Dodi Mawardi
Pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia, Penulis Buku “Belajar Goblok Dari Bob Sadino”, dan “Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 Pas”

Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut. ~ John Dewey ~