Komunikasi
yang baik akan meningkatkan kualitas cinta dan kasih sayang orangtua
terhadap anak dan begitupun sebaliknya. Berkomunikasi dengan anak sangat
diperlukan bagi setiap orangtua, karena komunikasi yang baik akan
menjalin hubungan yang baik pula antara anak dengan orangtua. Anak itu
ibarat kertas putih, apa yang diajarkan itulah yang ia pelajari, apa
yang dengarnya itulah yang akan dia ucapkan, apa yang dia rasakan itu
pulalah yang akan mereka katakana, apa yang mereka lihat itulah yang
akan mereka lakukan. Jadi komunikasi yang baik dengan anak perlu
diterapkan disetiap keluarga kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi
apapun. Karena dengan berkomunikasi yang baik akan membantu perkembangan
anak menjadi lebih baik.
 |
| Sumber gambar : Thema Powerpoint |
Berkomunikasi yang baik dengan anak
selain
akan mendapatkan hubungan yang baik, juga menjadikan kemampuan dan
keterampilan berkomunikasi anak akan lebih baik dengan masyarakat atau
teman-temannya, karena secara tidak langsung orangtua telah memberikan
pembelajaran yang sangat berharga pada anak.
Saya yakin dan kita
semua sudah tahu bahwa komunikasi yang efektif sangat penting dalam
sebuah keluarga. Komunikasi yang dijalin secara positif antara orangtua
dengan anak dan dengan seluruh angota keluarga, akan membuka keran
kemesraan, kehangatan, kenyamanan, saling percaya dan tentu akan semakin
meningkatkan kualitas hubungan antar seluruh anggota keluarga. Kaulitas
hidup akan menjadi semakin baik.
Tetapi permasalahannya adalah
tidak semua orangtua memahami bagaimana komunikasi yang positif itu,
sehingga yang banyak terjadi adalah komunikasi yang monoton dan
cenderung searah, yaitu top-down. Orangtualah yang lebih banyak
mengambil peranan, sehingga cenderung mengabaikan dan mengesampingkan
anak. Padahal komunikasi yang baik dan positif adalah komunikasi yang
multi arah. Adanya hubungan timbal balik yang baik dan saling mengisi,
bukan mendikte.
Seorang anak yang merasa terus-menerus di
salahkan, terus-menerus di kritik, didikte, ditekan harus melakukan ini
dan itu, maka ia akan tumbuh menjadi orang dewasa dengan konsep diri
yang negatif, karena dalam perkembangannya, pengalamannya hidupnya ia
banyak mendapatkan tekanan, paksaan, disalahkan dan sebagainya. Apakah
sebagai orangtua kita akan membangun konsep diri dan kepribadian anak
seperti itu ? tentu tidak bukan ? Biasanya anak dengan kondisi demikian
adalah produk dari pola asuh yang otoriter. Pola asuh seperti ini
cenderung menuntut anak. Bila tidak sesuai dengan keinginan yang
diharapkan, maka orangtua akan langsung marah-marah. Akibatnya anak
selalu takut berbuat salah. Padahal kita tahu bahwa anak-anak seringkali
berbuat kesalahan, dan itu adalah hal yang wajar dilakukan anak yang
dalam proses pembelajarannya. Bukankah kesalahan itu adalah bagian dari
proses belajar ? Anak mengambil jalan aman dengan berbohong ketimbang
kena marah.
Karena saya seorang guru, maka saya akan mencoba
menceritakan suatu peristiwa yang memang bukan sekali saja terjadi di
sekolah. Peristiwa yang akan saya ceritakan ini biasanya terjadi ketika
pembagian raport. Sudah menjadi kebiasaan bahwa yang mengambil raport
murid-murid di sekolah adalah orangtuanya, bisa ayahnya atau ibunya,
tetapi banyak juga yang kedua-duanya datang untuk mengetahui dan
berkonsultasi dengan saya mengenai perkembangan anaknya di sekolah.
Ada
seorang ibu yang ngotot dan marah ketika mengetahui nilai yang tertera
pada raport anaknya itu adalah nilai yang pas-pasan. Si ibu ini begitu
yakin bahwa saya melakukan kesalahan yang fatal dalam menuliskan nilai
pada raport anaknya. Sang ibu mengutarakan argumentasinya bahwa selama
ini nilai anaknya selalu bagus, dan itu terbukti dari ulangan-ulangan
yang diberikan oleh anaknya kepada sang ibu. Saya tidak membalas dengan
marah lagi, saya hanya tersenyum saja, karena saya yakin bahwa si ibu
telah dibohongi oleh anaknya. Untuk meyakinkannya sayapun menyodorkan
daftar nilai ulangan harian, tugas-tugas, maupun PR kepada sang ibu ini.
Beliau tidak yakin dengan penglihatannya. Kemudian sayapun menjelaskan
kondisinya, bahwa anaknya memang seringkali mendapat nilai yang
pas-pasan kalau ulangan. Dan mungkin karena merasa takut terhadap
ibunya, maka si anak lebih memilih membuang dan tidak memberikan hasil
ulangan yang nilainya pas-pasan itu ketimbang nanti dimarahinya. Hanya
hasil ulangan yang nilainya baguslah yang diberikan kepada ibunya,
karena dengan demikian ia tidak akan dimarahi dan tentu akan mendapat
pujian.
Kejadian nyata yang saya ceritakan itu adalah salah
satu produk dari pola komunikasi yang selama ini dilakukan oleh sebagian
orangtua terhadap anaknya, yaitu komunikasi yang otoriter. Komunikasi
yang ototriter juga cenderung satu arah, di mana dalam tipe komunikasi
satu arah ini hanya ada satu figur sentral yang mendominsai, bisa ayah
atau ibu. Dan figur sentral ini mempunyai kewenangan, kekuasaan untuk
menentukan kapan anak boleh bicara atau tidak. Pola seperti ini jika
diteruskan terjadi, maka akan membuat anak menjadi seorang yang
tertutup pada orangtuanya.
Ada juga yang di rumahnya jarang
terjadi komunikasi. Walaupun tidak ada masalah antara orangtua dengan
anaknya. Misal, orangtua pulang kantor karena capek ia langsung masuk
kamar. Anak pun demikian, pulang sekolah langsung mengunci diri di
kamar. Akibatnya orangtua tidak tahu keadaan dan kebutuhan anak,
begitupun anak tidak dapat berinteraksi dengan baik terhadap
orangtuanya. Walaupun ada komunikasi, hanya sebatas basa-basi saja.
Contohnya, ibu bertanya kepada anaknya, " Bagaimana tadi di sekolah?"
anak hanya menjawab, "Ah, enggak apa-apa. Biasa-biasa saja !" Jadi di
saat orangtua atau anak ingin menggali cerita lebih dalam, komunikasi
tidak dapat terwujud karena tidak ada saling keterbukaan, komunikasi
yang terjalin sudah terlanjur kaku, canggung dan hambar. Biasanya
komunikasi seperti ini penyebabnya adalah karena antara orangtua ataupun
anak sama-sama sudah merasa capek dengan aktivitas dan rutinitas
sehari-hari.
Seyogyanya antara orangtua dan anak terjadi suatu
komunikasi yang hidup dan positif. Komunikasi yang positif adalah tipe
komunikasi yang paling sehat. Antara anak dan orangtua terjalin
komunikasi saling terbuka. Orangtua mau mendengarkan anak dan anak
secara leluasa dapat bercerita, mengeskpresikan perasaan, curahan
hatinya, kesedihan, kegembiraan, pengalamannya, dan pikiran-pikirannya
serta berdiskusi dengan orangtua. Tipe komunikasi ini cenderung lebih
demokratis dan hangat.
Bagaimana menciptakan komunikasi yang
positif ? Berikut bisa dijadikan referensi bagi para orangtua dalam
membangun komunikasi yang positif :
- Jangan membawa masalah
pekerjaan di depan anak. seberat apapun masalah atau problem yang
dihadapi di kantor, jangan sampai anak melihat kekesalan,
kekecewaan, apalagi umpatan-umpatan dan sumpah serapah kita, jangan
sampai kekesalah tertumpah kepada anak. Apapun keburukan anak,
bisa jadi merupakan buah dari perkataan orangtuanya.
- Jika
orangtua, antara ayah dan ibu ada masalah, maka jangan sampai
diributkan di depan anak. Ketika berkumpul antara ayah, ibu dan
anak, maka sebagai orangtua yang baik, pendamlah dulu emosi
dalam-dalam. Akan sangat tidak baik apabila orangtua berantem dan
ribut di depan anak-anak. selesaikan masalah di tempat lain yang
tidak diketahui atau di dengar oleh anak.
- Saat berkomunikasi
atau berbicara dengan anak, gunakanlah bahasa yang sederhana, mudah
dimengerti dan usahakan menggunakan kata yang kongkrit terlebih
kepada anak di bawah tujuh tahun.
- Hendaknya orangtua
jangan membumbui perkataannya dengan menakut-nakuti anak. Misal “
Dek, kamu jangan manjat-manjat pohon, nanti kamu jatuh lho. Kalau
kamu jatuh terus kaki kamu patah bagaimana ? Kamu nanti dibawa ke
dokter terus kakinya dioperasi !” sebaiknya orangtua mengatakan
dengan kalimat yang positif dan menghindari kata-kata negatif.
Katakan saja kepada anak “ Dek, mainnya di bawah saja ya, lebih
aman !”
- Supaya anak memamahi apa yang dibicarakan oleh
orangtua, maka perhatikan nada bicara, tempo dan mimik muka. Jangan
samapi berkomunikasi dengan perkataan yang cepat tetapi tidak
jelas maknanya.
- Tumbuhkanlah sikap saling terbuka, saling
menghargai, saling memahami dan kehangatan, sehingga komunikasi
akan berjalan dengan lebih cair dan efektif.
- Walaupun posisi
kita sebagai orangtua, tetapi hendaknya saat berkomunikasi dengan
anak, kita usahakan untuk lebih banyak menjadi pendengar yang baik.
Dengan lebih banyak mendengarkan anak, orangtua jadi dapat
mengetahui kebutuhannya, apa yang diinginkan, dirasakan,
diharapkan, pemikiran-pemikirannya, pendapatnya atau
kritikan-kritikannya kepada kita dan sebagainya. Tetapi, bukan
berarti karena menjadi pendengar yang baik lantas orangtua menjadi
pasif. Yang benar adalah bersikaplah proaktif. Perhatikan hal-hal
sekecil apapun yang timbul dari anak, dan orangtua harus
pandai-pandai memancing agar anaknya mau berbicara. Misal saat anak
pulang sekolah terlihat sangat kelelahan, cobalah untuk bertanya “
Kenapa sayang, kelihatannya lemes banget ?” Nah bentuk perhatian
seperti ini akan mendorong anak untuk mau bercerita mengenai
keadaannya kepada orangtua.
“Ketika kita belajar mendengar, kita tidak saja sedang membuat orang lain bahagia,
kita juga sedang membuka lapisan-lapisan diri ini yang lebih mulia.”
~ (Gede Prama)
- Saat
berkomunikasi, uasahakan untuk tersenyum dengan tulus. Karena 50 %
komunikasi dilakukan dengan bahasa tubuh termasuk mimik muka atau
ekspresi wajah. Bahasa tubuh ini akan menambah pemahaman anak
daripada kalimat-kalimat atau bahasa-bahasa yang intelektual.
- Tunjukkan sikap antusian di depan anak-anak, karena dengan demikian, anak akan merasa diperhatikan oleh orangtuanya.
- Gunakanlah
kacamata anak-anak, artinya anak-anak melihat berbagai hal dengan cara
pandang yang berbeda, anak-anak akan melihat dan menilai sesuatu
menurut pemahamannya, dengan persepsinya. Mereka melihatnya dengan
kacamata mereka, bukan kacamata orangtua. Karena bentuk perhatian,
prioritas dan sistem nilai mereka memang berbeda dengan orang
dewasa. Untuk itu gunakan standar mereka, agar komunikasi lebih
cair. Kitalah yang harus memasuki dunia mereka, bukan memaksa
mereka untuk masuk ke dunia kita.
- Libatkanlah anak-anak.
Jika ada bagian dari komunikasi atau bicara antara orangtua dengan anak
yang membutuhkan atau memungkinkan mereka bisa tampil, meminta
pendapatnya, maka berikan kesempatan itu pada mereka. Terkadang
ide-ide, gagasan, pendapat anak itu lebih segar, brilliant,
orisinil, dan tentunya akan ada kejutan-kejutan yang di luar
perkiraan kita. Karena biasanya anak-anak lebih banyak menggunakan
otak kanannya, daripada orangtua yang cenderung lebih banyak
menggunakan otak kirinya.
- Berikan penguatan-penguatan dan
motivasi, tentu penguatan dan motivasi ini harus wajar dan logis.
Jangan sampai orangtua memuji secara berlebihan atas pebuatan kecil
yang dilakukan anak, karena anak akan menganggap itu sebagai
sindiran.
- Jujurlah kepada anak, dalam menjelaskan atau
mengomunikasikan sesuatu dengan anak-anak, hendaknya orangtua
berlaku jujur, dalam arti tidak membodohi dan membohongi anak.
Jelaskan dengan jujur, berikan pemahaman. Jika anak bertanya dan
kebetulan orangtua tidak dapat menjawab pertanyaannya, maka katakan
saja dengan jujur bahwa orangtua belum bisa menjawab dan akan
segera mencari tahu jawabannya.
Kita tahu bahwa
kualitas hubungan dan komunikasi yang diberikan orangtua pada anak akan
menentukan kualitas kepribadian dan moral mereka. Hubungan yang penuh
akrab dan bentuk komunikasi dua arah antara anak dan orangtua merupakan
kunci dalam pendidikan moral keluarga. Komunikasi yang perlu dilakukan
adalah komunikasi yang bersifat integratif, dimana ayah, ibu dan anak
terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dan menghindari model
komunikasi yang bersifat dominatif atau suka menguasai. Jika orangtua
selalu mendominasi pembicaraan, tak henti-hentinya berbicara,
menasihati, menyalahkan, menilai dan sebagainya, maka orangtyua yang
seperti itu akan menjadi orangtua yang menyebalkan di mata anak-anak.
Walaupun mungkin anak diam, tetapi jauh di lubuk hatinya akan ada
perasaan jengkel terhadap orangtua yang demikian. Dan bisa saja seorang
anak menyalurkan kekesalan dan kejengkelannya melalui saluran lain,
misalnya dengan berceloteh di Facebook. Dan hal ini pernah terjadi, di
mana salah seorang anak didik saya menuliskan status di akun
facebook-nya dengan menumpahkan kekesalan kepada orangtuanya yang
terlalu banyak mengatur dan mendominsai pembicaraan. Saya bisa tahu
status yang ditulisnya karena saya menjalin pertemanan dengan anak didik
saya ini. Orangtuanya tidak mengetahui celoteh anaknya karena ia sibuk
dengan pekerjaannya dan tidak mempunyai akun Facebook. Bayangkan, berapa
banyak orang lain yang menjadi tahu permasalahan yang dialami si anak,
karena membaca status yang ditulis oleh si anak itu tentang sifat
orangtuanya.
Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua dalam
membentuk moral anak melalui pendidikan dalam keluarga adalah menjaga
kualitas hubungan dan komunikasi mereka, yaitu hubungan dan komunikasi
yang ramah tamah dengan suasana demokrasi. Sebab keramahan dapat membuat
anak merasa diterima.
Ada dua tingkatan hubungan antara orangtua
dan anak dalam berkomunikasi yaitu pada tingkat feeling atau perasaan
dan tingkat rasio atau logika. Hubungan pada tingkat feeling atau emosi
yaitu untuk pemahaman atau empati-empati yang berarti memahami perasaan
seseorang tanpa harus larut dalam emosinya. Hubungan pada tingkat rasio
atau logika juga diperlukan untuk memecahkan masalah dalam keluarga.
Kedua bentuk hubungan ini perlu untuk diaplikasikan oleh orangtua dalam
membina moral anak. Walau orangtua harus bersikap ramah dan demokratis
pada keluarga bukan berarti menunjukan karakter yang lemah dan suka
mengalah. Dalam membuat keputusan orangtua tetap bersifat demokratis
tetapi tegas dan jelas.