![]() |
| Sumber gambar : Google Gambar |
Bobby de Porter dalam buku Quantum
Teaching mengatakan bahwa tingkat konsentrasi siswa itu adalah sesuai dengan
umurnya, jadi jika seorang siswa umurnya 10 tahun, maka sudah dapat dipastikan
bahwa daya fokus mereka untuk mencerna pelajaran dengan baik, hanya bertahan
selama sekitar 10 menit. Lebih dari itu konsentrasi mereka akan terpecah ke
hal-hal lainnya yang dianggapnya lebih menarik.
Untuk itu guru dituntut untuk selalu
berusaha agar daya konsentrasi siswa tetap terjaga. Cara-cara berteriak,
memukulkan penggaris ke papan tulis atau dengan memukulkan penghapus papan
tulis ke meja dianggap sudah tidak relevan lagi. Walaupun memang diakui
cara-cara tersebut sedikit efektif untuk mengembalikan daya konsentrasi siswa. Tetapi
mau sampai kapan guru memukul-mukul papan tulis atau meja ? lalu bagaimana
dengan dampak psikologis siswa di kelas ? Tidak semua siswa dapat menerima
cara-cara seperti itu. Terutama dengan siswa yang cenderung sensitif.
Ada beragam cara yang lebih membangun dan
lebih ramah dalam mengembalikan daya konsentrasi siswa. Salah satunya adalah
dengan tepukan tangan. Saya menerapkan metode ini sudah bertahun-tahun dan
terbukti sangat efektif untuk mengembalikan daya konsentrasi siswa saya di
kelas. Saya mengajar di kelas 6 yang rata-rata usianya 10 – 12 tahun. Saya
mengambil rata-rata usia mereka 11 tahun. Jadi dengan demikian setelah rentang
waktu 11 menit, maka saya akan berusaha untuk mengembalikan daya konsentrasi
mereka dengan tepukan tangan, terutama dikala siswa-siswa tengah gaduh.
Perlu diketahui bahwa siswa yang gaduh,
tidak konsentrasi atau membuat onar, itu bukan berarti siswa tersebut nakal,
bisa jadi karena mereka sudah jenuh dengan situasi atau suasana yang ada. Guru hendaklah
tidak menjatuhkan vonis bahwa mereka nakal, apalagi sampai meberikan label
nakal kepada mereka.
Baiklah saya akan coba utarakan cara
mengembalikan konsentrasi siswa dengan tepukan. Ada beberapa cara tepukan,
namun kali ini saya akan coba yang simpel dan mudah dilaksanakan. Namun sebelum
menerapkan cara ini perlu diadakan kesepakatan awal dengan seluruh siswa bahwa setelah mereka bertepuk tangan, mereka harus kembali konsentrasi.
Jika pada suasana belajar siswa
terdengar gaduh, banyak yang ngobrol atau tidak
konsentrasi, maka guru berdiri di depan kelas dan katakan “Yang mendengar suara
Bapak/Ibu tepuk tangan tiga kali !” siswa harus bertepuk tangan sebanyak tiga
kali (prok..prok..prok) secara serempak. Hal ini perlu dilatih di awal. Saya
membuat kesepatan dengan siswa saya biasanya di awal kegiatan minggu-minggu
pertama siswa masuk sekolah.
“Yang mendengar suara Bapak/Ibu tepuk
tangan tiga kali !” ( Prok…prok...prok). Biasanya jika ada siswa yang sedang
ngobrol misalnya, atau konsentrasinya ke tempat yang lain, maka dengan
mendengar tepukan sebanyak tiga kali dari teman-temannya, seolah mereka diingatkan untuk kembali
konsentrasi pada pelajaran. Jika masih ada siswa yang belum konsentrasi, maka katakan
lagi “ Yang mendengar suara Bapak/Ibu tepuk tangan dua kali!” (prok…prok). Nah
ketika guru mengatakan kalimat yang kedua, suaranya agak dipelankan sedikit.
Jika masih juga ada yang belum
konsentrasi, maka katakan lagi “Yang mendengar suara Bapak/Ibu tepuk tangan
satu kali!” (prok..) suara guru ketika mengatakan kalimat yang ketiga kalinya
sebisa mungkin dipelankan, tetapi masih tetap bisa terdengar ke seluruh ruangan
kelas.
Perlu diketahui selain kita harus membuat
kesepakatan di awal dengan siswa, penerapan cara ini harus konsisten. Di mana
kalau siswa sudah bertepuk tangan maka segera kondisikan agar mereka konsentrasi.
Sebagai catatan jika daya konsentrasi siswa memang hampir semuanya tidak fokus,
maka terapkan cara bertepuk tangan tiga kali, kemudian dua kali dan kemudian satu kali. Tetapi kalau
suasana atau konsentrasi siswa hanya sebatas ngobrol saja, maka tepuk tangan
cukup hanya satu kali saja.
Alhamdulillah selama ini cara tersebut
sangat efektif untuk mengembalikan daya konsentrasi siswa di kelas. Semoga
bermanfaat.
