Anak-anak itu mirip semen basah, apapun yang jatuh di atasnya akan meninggalkan bekas, yang kalau tidak segera dihaluskan kembali, bekas tersebut akan mengeras selamanya. (Haim Ginott)

Selasa, 06 Agustus 2013

Stop Labelling "Nakal" dan "Bandel"



sumber gambar : Google gambar
Terus terang saya merasa tidak setuju dengan istilah anak “bandel” atau anak yang “nakal”. Tetapi itulah yang terjadi dalam keseharian kita, baik di rumah atau di sekolah, masih banyak terdengar kata-kata “bandel” dan “nakal”. Ketika saya memberikan seminar parenting kepada para orangtua masih banyak yang bertanya “ Pak bagaimana solusinya menghadapi anak saya yang nalak?” atau bahkan guru sendiri ada pula yang bertanya bagaimana menangani anak yang “bandel”? Cap atau label nakal dan bandel biasanya diberikan oleh para orangtua kepada anaknya yang dirasakan tidak menurut apa kata orangtua. Anak berprilaku tidak seperti yang diharapkan, maka akan dengan mudah cap itu diberikan kepada anak-anaknya.  
Begitupun dengan guru di sekolah, maka cap atau label bandel dan nakal akan dengan mudah sekali diberikan guru jika ia merasa tidak sanggup mengendalikan perilaku siswanya. Ketika kenaikan kelas tiba, maka cap nakal atau bandel yang disandang seorang siswa dari kelas sebelumnya akan disertakan oleh gurunya dikelas berikutnya. “ Pak hati-hati si anak ini nakal!” atau “Pak tolong diperhatikan ya, si ini bandel banget!” Bisa dibayangkan kalau label nakal atau bandel itu diberikan oleh guru mulai di kelas satu, maka mungkin akan diteruskan ke kelas berikutnya dan seterusnya.
Para ahli mengakatan bahwa tubuh manusia dewasa terdiri dari 70 % cairan, sedangkan tubuh bayi yang baru lahir 80 % adalah cairan, sel telur yang dibuahi oleh sel sperma terdiri dari 96 % air. Dan kita semua mengetahui bahwa ternyata air merespon segala bentuk yang diberikan kepadanya. Sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto. 
Hampir 20 tahun Masaru Emoto melakukan penelitian terhadap berbagai macam air. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil  penelitian yang panjang itu adalah bahwa air merupakan sumber kehidupan, dan ia hidup. Air mampu merespon berbagai informasi yang diberikan kepadanya. Informasi berupa, kata-kata, suara, gambar ternyata dapat direspon oleh air. Masaru Emoto melakukan penelitian terhadap air dengan membekukan air di dalam freezer dengan suhu 250C di bawah  0, atau bahkan lebih. Kemudian beliau mengamati hasilnya di bawah mikroskop  elektron.
Hasilnya ada tiga kelompok kristal yang dihasilkan, yaitu kristal yang indah, kristal yang gagal dan yang tidak membentuk kristal sama sekali. Berbagai macam air dijadikan sebagai sampel penelitiannya, mulai dari air kran, air mineral, air sumur, air hujan, dll. Air juga diambil dari berbagai tempat di belahan dunia ini. Air yang diberi label dengan kata-kata yang baik dan indah ternyata menghasilkan bentuk kristal yang indah dan bagus sekali. Sedangkan air yang diberi label dengan kata-kata negatif dan buruk menghasilkan kristal yang buruk pula bahkan ada yang tidak membentuk kristal sama sekali.
Bagaimana dengan label nakal atau bandel yang diberikan oleh orangtua terhadap anaknya atau oleh guru terhadap muridnya ? Jika kata-kata nakal atau bandel sering diucapkan, dan sering terdengar oleh seorang anak, maka kecenderungannya adalah anak akan menjadi apa yang seringkali ia dengar. “ Kamu nakal!” atau “Kamu bandel!” jika kalimat tersebut diucapkan berulang-ulang, terus menerus walaupun dengan maksud yang baik, tetapi besar kemungkinannya anak akan menjadi nakal dan bandel. Harus diingat bahwa tubuh manusia sebagian besarnya adalah caairan dan cairan merespon segala bentuk informasi yang diberikan kepadanya. 
Saya mempunyai pengalaman menangani anak yang dari kelas sebelumnya telah diberikan label nakal, bahkan oleh orangtuanya sendiri.
Saya mempunyai seorang murid, sebut saja namanya Hamid, orang tuanya sudah “nyerah” dengan kelakuan Hamid ini. Sering membuat ulah, melawan pada orang tua, susah belajar. Di sekolahpun demikian, ia sering mengganggu teman-temannya, berulah dan selalu tertinggal dalam pelajaran. Sayapun hampir kehabisan akal menghadapi anak ini, berbagai cara saya coba, tetapi belum berhasil juga.
Saya ingat dengan kekuatan kata-kata positif, maka sampai akhirnya pada suatu kesempatan, saya mengumumkan sesuatu kepada murid-murid saya di kelas. Saya mengumumkan bahwa hari itu saya sangat bangga kepada Hamid, karena Hamid telah menunjukkan perubahan sikap yang luar biasa.
Kontan saja Hamid tercengang mendengar kata-kata saya itu. Pastilah dia kaget, karena ia tidak merasa seperti apa yang saya katakan tadi. Reaksi serupa ditunjukkan oleh anak-anak  yang lainnya. Berubah apanya ? begitulah kira-kira pertanyaan yang diajukan anak-anak di kelas. Saya tetap dengan kata-kata dan pendirian saya bahwa Hamid telah berubah, dan saya bangga kepadanya. Ya jujur saja memang anak ini belum berubah, tapi saya optimis dengan kata-kata saya tadi.
Masih dengan wajahnya yang terheran-heran, saya menghampiri Hamid, mengucapkan selamat atas perubahannya serta menyalaminya, tak lupa saya meminta anak-anak lainnya untuk memberikan semangat dengan bertepuk tangan.
Usaha saya untuk membuat Hamid menjadi lebih baik tidak berhenti sampai di situ, pada setiap kesempatan saya memberikan dorongan dengan kata-kata penyemangat “Hamid Bapak bangga sekali dengan perubahan kamu, terus tingkatkan ya !” Hamid mengangguk. Begitulah terus, sambil sesekali saya memberinya tanggung jawab, peguatan-penguatan, pujian, dan lain-lain.
Lambat laun anak ini memang benar-benar berubah 180 derajat. Perangainya menjadi  lebih baik, jadi lebih rajin belajar, tidak lagi mengganggu taman-temannya. Prestasinya sedikit demi sedikit meningkat dan menujukkan grafik yang terus menaik.
Ada semacam dorongan dalam dirinya untuk berubah sesuai dengan apa yang ia dengar, ada semacam tanggung jawab yang harus diemban dan dilaksanakan, ada semacam panggilan jiwa untuk merubah dirinya. Dia tidak merasa disuruh, tidak merasa dipaksa, tetapi dengan kesadaran sendiri, ia mau merubah dirinya. 

Jika di kelas anda menghadapi anak yang dikategorikan “nakal” atau “bandel” maka beberapa hal di bawah bisa dijadikan resep :

  • Hentikanlah ucapkan atau cap nakal pada anak tersebut. Gantilah dengan kalimat sugestif yang positif seperti “Bapak/Ibu yakin sekali bahwa yang orang lain katakan tentang kamu itu tidak benar, menurut Bapak/Ibu kamu lebih baik dari yang orang bilang” dengan demikian anak tersebut merasa ada orang yang masih percaya padanya.

  • Berikan ia kepercayaan. Mulailah dari hal-hal yang kecil, menghapus papan tulis, mintalah ia untuk membawakan barang-barang anda ke ruang kelas, libatkan sesering mungkin dalam berbagai kegiatan, dalam suatu kesempatan jadikan ia pemimpin, misal memimpin do’a, menyiapkan barisan, memimpin diskusi, dsb.

  • Ketika ia berbuat baik sekecil apapun, secepatnya berikan pujian saat itu juga, atau kalau tidak memungkinkan untuk memberikan pujian saat itu, maka tulisankan pada secarik kertas, misal dengan kalimat “ Hari ini Bapak/Ibu  bangga sekali dengan kamu. Terus tingkatkan ya!” saya yakin surat kecil ini akan ia simpan paling tidak di dalam hati terdalamnya.

  • Katakan “Bapak/Ibu bangga dengan perubahan kamu” sebisa mungkin hindari kalimat “Bapak/Ibu senang dengan perubahan kamu”. Jika anda katakan senang maka ia akan berubah hanya untuk menyenangkan gurunya.

Yang terpenting adalah tetap mengembangkan sikap positif, berprasangka baik dan konsisten. Sertakan selalu dalam doa’doa kita. Jika dalam jangka waktu setahun bersama anda ia belum juga menunjukkan perubahan¸maka percayalah di tahun berikutnya ia akan berubah. Jika tahun-tahun berikutnya belum berubah juga, maka percayalah bahwa pada suatu saat ia akan ingat ada seorang guru yang selalu percaya kepadanya, yaitu anda.



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika cara mengajar dan apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita hari ini sama saja dengan yang kemarin, maka kita merampas masa depan anak didik kita tersebut. ~ John Dewey ~